Minggu, 03 April 2016

Teruntuk C

Denial.
Setidaknya kata itu, suasana itu masaih membayangi setidaknya setengah tahun ini. Perasaan itu menggelayuti kadang tenggelam jatuh ke dasar namun tiba-tiba mumbul ke permukaan. Kembali terbayang. Asu!

C.
Line mu datang menghampiri lagi. Setidaknya aku tidak pernah menghubungi lagi. Namun kamu datang lagi membawa pesan singkat. Pesan yang tidak berkaitan dengan suasanaku. Pesanmu memberitakan penjualan sepatu gunungmu yang pernah kamu beli di depan Gor UNY setahun yang lalu. “Enggak sekalian jaket mu dijual” balasku. Jaket diskonan yang pernah aku belikan beberapa bulan sebelum kamu beli sepatu. Emosi. Ya, aku memang sedang emosi. Abis moodku kamu rusak.

C.
Aku sudah tidak mengikutimu lagi setidaknya sejak aku menyembunyikan akun line mu. Aku juga tidak pernah mengaktifkan Path. Ya, memang sebenarnya aku tidak mengaktifkan path jauh sebelum “itu”. Tapi aku tahu kamu sangat aktif di sana. Bukan risih ya, Cuma aku berusaha untuk mengetahuimu lebih update.

C.
Setidaknya hari ini aku mulai menghapus kontak mu di ponselku. Sepertinya itu cara lawas yang mujarab. Mulai dari nomor telepon, akun line, unfollow twitter, Whatsapp pokonya semuanya. Setidaknya aku tidak bisa menghubungimu. Sebaliknya aku pikir kamu tidak usah menghubungi aku lagi. Lagi-lagi aku malas mengembalikan mood ku yang ambyar setelah berinteraksi denganmu. Asu kowe!

C.
Benar juga firasat alam. Sepagi tadi di jalan Pakuningratan aku kepikiran kamu. Tidak cuma tadi sih beberapa kali aku memang kepikiran kamu. Cuma tadi pagi memang tiba-tiba, sesaat setelah menikung ke arah jalan Magelang, “jangan-jangan aku akan menghadapi paceklik hubungan?”. Setidaknya firasat tadi ada hubungannya dengan line mu sore tadi. Asu!

C.
Pernah aku berfikir kita bertemu disuatu momen. Entah gedung bioskop, tempat makan langganan kita dulu atau toko buku. Pernah juga aku membayangkan kita berjumpa di jalanan entah sliringan ataupun aku hanya melihat dari kejauhan. Aku hafal mobilmu. Rasanya gondok dan mungkin mangkel liat sesuatu berwarna serupa mobilmu. Terkadang aku sempatkan liat plat ataupun stiker belakangnya. Fyuh, beruntunglah aku tidak pernah merasakan. Eh, tapi itu mungkin sih. Asu!

C.
Semoga yang aku alami ini segera belalu. Gila, badai ini belum kelar-kelar. Entah sampai kapan. Aha, tiga setegah tahun yang lalu kalau tidak salah pas kita pedekate itu ya. Ah, sudahlah. Jalan sudah sendiri-sendiri. Selamat deh buat orang yang paling egois, menangan dan moody-an. Kowe wis mulyo.

Sabtu, 26 April 2014

Cerita Jogja, 25 April 2014



Umpan tarik dari Engkus Kuswaha disambar dengan cepat oleh Suprex lalu diteruskan dengan tendangan keras. Gol. Supri berlari kegirangan ke arah tribun. Bagaimana tidak sudah tiga laga ini dia selalu dimainkan sebagai pemain pengganti yang diharapkan memecah kebuntuan tim. Seto kali ini beruntung sekali memasukkan Suprex. Gol Suprex melengkapi gol PSIM sebelumnya yang dicetak dengan santai lewat sundulan oleh Tri Handoko.

Wuih laga kandang kedua kali ini sangat mendebarkan. Jika PSIM kalah, lawatan ke Sleman menjadi semakin berat. PSIM saat ini memperoleh empat poin sama dengan perolehan PSS Sleman.
Owin kemarin bermain apik. Dia bermain lugas. Gelandang pengangkut air baru setelah Eko BS tak kunjung sembuh pasca cedera. Owin kemarin memiliki visi bermain yang bagus, intercept-nya juga ciamik.

Oni yang kemarin (saat melawan PSBK Blitar) kebobolan 3 gol bermain lumayan. Namun saya ketir-ketir kala pemain PSBI Blitar menggempur habis-habisan. Sayang, wasit menghadiahi kartu kuning karena dianggap mengulur-ulur waktu.

Poin penuh semoga menjadi keran bagi PSIM. Meski pesimis pada laga melawan PSS Sleman namun tidak ada salahnya berharap. Semoga para pemain PSIM bermain kesetanan. Tri Handoko mampu menjebol gawang Ali Barkah atau Herman Batak sekaligus. Ndok begitu sapaannya pernah menjadi idola supporter Sleman. Kita tunggu saja apakah Ndok memiliki kesempatan membobol mantan tim nya? Atau malah legiun asing mereka, Kristian Adelmund yang pernah memperkuat PSIM yang tampil sebagai pencetak gol. Kita tunggu saja kawan.

Selasa, 22 April 2014

Cerita Jogja, 22 April 2015

“PSIM kapan main sih?” beberapa orang menanyakannya sekitar delapan bulan lalu.

Tiket sudah di dapat, saya datang lebih awal untuk bertemu dengan seorang kawan. Ipod tak lupa saya bawa siapa tahu mendapat gambar terjadinya gol.

Masuk stadion suasananya menurut saya tidak penuh tapi lumayanlah untuk sekelas stadion Mandala Krida. Beberapa teman saya sibuk dengan laskar/komunitasnya. MC membacakan susunan pemain tanda pertandingan segera dimulai. Saya masih sibuk mengambil gambar untuk liputan independent.

Eko Kancil ditarik keluar lapangan, Dimas Priambodo eks Tunas Jogja masuk menggantikannya. 
Sebelum pertandingan saya sempat berbincang dengan Kancil-begitu nama panggilannya. “Mas nanti semoga bisa full”. “Iya mas Insya Allah, bisa” jawab pemain yang telah mencicipi Ligina sejak tahun 1999.

Lapangan tengah PSIM terasa berat setelah perginya Kancil. Dimas sebenarnya tidak tampil buruk. Tri Handoko yang mulai nyaman bermain di sisi kanan beberapa kali merangsek masuk ke pertahanan PSBK Blitar. Dia berani duel dengan pemain asing PSBK yang tinggi besar. Licin. Tri Handoko akhirnya membuka skor untuk PSIM. Tuan Rumah bersorak menyambut gol.

Seorang teman berseloroh, “Mengapa Oni mengganti sarung tangannya setelah PSIM unggul?”

Tidak berapa lama PSBK mampu menyamakan lalu membalikan keadaan menjadi 1-2. Tuan rumah semakin tertekan, bermain dihadapan publik sendiri Topas dkk. Sulit membongkar pertahanan lawan.
Umpan tarik Suprek –panggilan Supri disambar oleh Arga Permana namun sayang bolanya tipis diatas gawang. Asa melambung.

Engkus Kuswaha yang didapuk sebagai targetman praktis minim peluang. Gol terakhir dari PSBK juga terasa menyesakan, berawal dari serangan balik, Andri Wirawan mencoba mengawal namun terlihat ragu-ragu dalam mengambil keputusan. Topas, Andri dan Eko Pujianto mampu dilewati dan lesakan menghujam gawang Oni.

Partai kandang pertama berhasil diambil tim tamu, masih ada laga kandang melawan PSBI Blitar. Semoga mental bertanding tim Laskar Mataram sudah siap untuk merumput kembali. Dan setiap pemain sudah bersinergi, umpan pendek yang tepat, umpan terobosan yang manja dan lesakan bola yang terarah tetap kami nanti.

Selasa, 15 April 2014

Cerita Ngawi, 15 April 2014


Truk, bis, dan mobil lainnya kami lewati. Jalanan ramai dan berdebu. Jalan lintas Propinsi. Kami tiba di Ngawi , Jawa Timur.

Ngawi adalah kota dimana mata saya terbangun jika melakukan perjalanan ke Surabaya. Bis Patas Eka selalu transit untuk makan dan aktivitas lainnya.

Pertandingan hampir dimulai, kami yang berkumpul di sebelah utara segera masuk ke stadion. Sebelum pertandingan saya sesumbar kepada seorang kawan, “Tri Handoko bakal mencetak gol”.

Dan ternyata sesumbar saya benar, Ndok begitu sapaan dari Tri Handoko mencetak gol. Berawal dari tendangan pojok Topas yang membentur tiang kemudian kemelut terjadi di depan gawang, Sepakan Ndok menggetarkan jala Persinga Ngawi.

Meski akhirnya tuan rumah mampu menyamakan kedudukan menjadi 1-1. Eko Pujianto beberapa kali 
menghadap ke utara seraya mengayunkan tangannya meminta semangat dari kami. PSIM sempat tertekan, serangan tim tuan rumah semakin gencar. Arsene Ntolo satu-satunya legiun asing yang mereka miliki turut dimainkan pada babak kedua.

Ndok nampak terengah-engah mendekati bubaran. Engkus hampir saja mencetak angka namun usahanya masih jauh dari kata sukses. Supri tampil sebagai pemain pengganti belum bisa menjadi kartu As bagi Seto yang kala itu melakukan debutnya sebagai Pelatih di kancah Divisi Utama.

Namun seperti yang sudah dilontarkan oleh Seto, target main dikandang lawan adalah seri pun terwujud. PSIM harus puas dengan hasil yang dicapai namun jangan sampai terlena, dua laga kandang harus bisa diamankan. Berharap dengan bermain di depan public sendiri tim Laskar Mataram mampu tampil lugas dan efektif.

Sabtu, 28 Desember 2013

Kita adalah Benalu

Klub ibarat pohon yang tumbuh besar. Akarnya sudah menancap di tanah sejak klub tersebut dilahirkan. Jika klub itu lahir di era awal Perserikatan bisa dibayangkan akar tersebut sudah menjalar kemana-mana. Klub yang sudah malang melintang di segala kompetisi seyogyanya semakin maju. Mundur atau yang paling parah adalah bubar merupakan mimpi buruk yang tiada akhir. Bubar berarti tinggal nama dan hanya bisa dipandang di buku-buku atau tulisan semata.

Klub tidak bisa lepas dari orang-orang yang berada di sekitarnya. Orang-orang ini tidak lain adalah manajemen, suporter dan pembuat merchandise. Mereka-mereka terkadang merugikan klub namun tidak jarang mereka dirugikan oleh klub.

Manajemen
Orang-orang yang bernyali/tidak memiliki pilihan lain untuk mengurusi klub. Mereka ini adalah penggerak roda-roda klub dalam mengarungi kompetisi. Mulai dari menyiapkan tim beserta pelengkapnya. Selain itu memikirkan cara membayar tunggakan gaji pemain, sewa stadion, catering dan masih banyak lagi. Bahkan tak jarang benda-benda berharga yang mereka miliki terpaksa harus di “sekolahkan”. Namun disatu sisi mereka benalu bagi klub, bisa dilihat siapa saja yang bekerja dan tidak di jajaran manajemen. Makan gaji buta.

Suporter
Pewaris abadi klub adalah suporter. Loyalitasnya kepada klub itu yang diharapkan dari mereka. Kemana pun klub tersebut bermain mereka secara swadaya hadir di stadion lawan. Tidak semua kaya namun tidak semua miskin yang jelas mereka bekerja keras sekuat tenaga mendukung klubnya. Mental masuk stadion tanpa tiket adalah tindakan yang merugikan klub. Efek fanatisme terkadang menjadi blunder. Tak jarang klub didenda akibat ulah suporter yang brutal. Klub harus menanggung beban. Uang berkurang dan pindah kandang.

Merchandise Bajakan
Kreatif mereka mengolah bahan-bahan mentah disulap menjadi merchandise klub. Kegiatan ini sejatinya illegal tapi sudah menjadi budaya. Budaya membajak memang menjadi kegiatan yang biasa. Selain itu membeli barang bajakan seolah sesuatu yang wajar. Alasan ekonomi dan harga yang ekonomis me-labelinya. Mereka-mereka juga merugikan klub karena menjual produk secara illegal. Namun disisi lain merchandise adalah bukti eksistensi klub bagi para penggemarnya.

Kita adalah benalu. Saya adalah benalu. Klub menjadi korban yang dirugikan oleh orang-orang yang menyusu. Sudah saatnya berbenah, Apakah kamu ingin berbenah juga? Saya pun ingin begitu, berjalan di jalan yang legal dan benar.

Dimaz Maulana,
Pengelola akun pengarsipan @BAWAHSKOR

Rabu, 17 Juli 2013

Setapak Menuju Gunung Prau


Sudah lama saya tidak liburan. Selalu saja ada saja kesibukan yang mangharuskan saya menunda liburan saya. Setelah kemarin saya bekerja selama 3 bulan, saya sudah memiliki rencana untuk meluangkan waktu untuk liburan. Gayung bersambut ketika scroll pada smartphone berhenti pada twit dari @ekspedisimagz yang berencana mengadakan liputan ke Karimun Jawa. Sontak saya tertarik sekali untuk bergabung. Amboy, rencananya tim ekspedisi tersebut akan mencari bahan untuk materi tulisannya di Karimun Jawa selama seminggu. Wow, pikiran saya seolah-olah sudah mencelat ke Karimun.

Saya sendiri belum pernah berkunjung ke pulau tersebut. Tapi imajinasi saya atas cerita-cerita teman-teman yang pernah kesana yang seolah-olah membuat saya bersemangat untuk berangkat liburan. Saya kemudian menyiapkan barang bawaan, mulai dari makanan, obat, alat perekam dan uang.



Pada hari H, Tantri mengirim sebuah pesan singkat yang berisi ombak tinggi di Laut Jawa. Secepat kilat saya menyalin pesan itu dan memberitahukan kepada Farid, ketua rombongan. Benar pada sore harinya Farid mengabari bahwa PT Pelni tidak akan memberangkatkan kapalnya pada esok hari. Wah, kekecewaan menyelimuti tapi mau bagaimana lagi hanya kapal motor yang menjadi satu-satunya alat transportasi untuk ke pulau Karimun Jawa.

Saya iseng bertanya kepada Tantri tentang alternatif liburan. Dia memberi dua opsi yaitu Umbul Ponggok di Klaten dan Dieng Plateu. Tak berapa lama Tantri mengirimi saya link tentang salah satu obyek trek pendakian gunung di dataran tinggi Dieng. Gunung Prau, begitu ketika saya membaca judul yang diberikan Tantri. Tanpa banyak berfikir saya setuju dengan pendakian Gunung Prau.

Perjalanan Jogja-Wonosobo-Dieng sekitar 2,5-3 jam  lewat Sapuran, Magelang. Setiba di Dieng kami menuju obyek Telaga Warna, Goa Semar dan Telaga Pengilon. Kemudian kami melanjutkan menuju Candi Arjuna dan Kawah Sikidang. Semua obyek tersebut memang menarik tapi saya jauh lebih tertarik dengan hamparan lading sayur-mayur yang ada di daratan tinggi Dieng. Saya jadi teringat ketika berkunjung ke Guci, Tegal. Secara kontur memang hampir mirip. Wortel, Sawi, Labu Siam, Kacang Koro dan Kentang sebagai primadona para petani setempat.



Setelah mengunjungi semua obyek wisata Dieng, kami memutuskan untuk memulai mendaki Gunung Prau. Kami berangkat dari Desa Kejajar. Perjalanan pendakian ditempuh selama 2,5 jam. Jujur saja saya sudah lama sekali tidak mendaki gunung. Mungkin terakhir kali ke Merapi itu pun semasa SMA. Selama perjalanan sesekali kami beristirahat. Saya melihat Penggok membawa cukup berat karena membawa tenda.



Gunung Prau memiliki beberapa vegetasi yang beragam seperti bunga-bunga kecil, cemara, pakis dan banyak lagi yang saya tidak tahu nama tumbuhannya. Dalam perjalanan saya menemui banyak tanaman murbey. Wow, sudah lama saya tidak menjumpai jenis tanaman ini. Oia, trek Gunung Prau cukup aman untuk dilalui. Tidak perlu khawatir hanya saja tidak ada sumber mata air selama perjalanan sampai ke puncak. Sumber mata air terakhir ada di Desa Kejajar.