Rabu, 17 Juli 2013

Setapak Menuju Gunung Prau


Sudah lama saya tidak liburan. Selalu saja ada saja kesibukan yang mangharuskan saya menunda liburan saya. Setelah kemarin saya bekerja selama 3 bulan, saya sudah memiliki rencana untuk meluangkan waktu untuk liburan. Gayung bersambut ketika scroll pada smartphone berhenti pada twit dari @ekspedisimagz yang berencana mengadakan liputan ke Karimun Jawa. Sontak saya tertarik sekali untuk bergabung. Amboy, rencananya tim ekspedisi tersebut akan mencari bahan untuk materi tulisannya di Karimun Jawa selama seminggu. Wow, pikiran saya seolah-olah sudah mencelat ke Karimun.

Saya sendiri belum pernah berkunjung ke pulau tersebut. Tapi imajinasi saya atas cerita-cerita teman-teman yang pernah kesana yang seolah-olah membuat saya bersemangat untuk berangkat liburan. Saya kemudian menyiapkan barang bawaan, mulai dari makanan, obat, alat perekam dan uang.



Pada hari H, Tantri mengirim sebuah pesan singkat yang berisi ombak tinggi di Laut Jawa. Secepat kilat saya menyalin pesan itu dan memberitahukan kepada Farid, ketua rombongan. Benar pada sore harinya Farid mengabari bahwa PT Pelni tidak akan memberangkatkan kapalnya pada esok hari. Wah, kekecewaan menyelimuti tapi mau bagaimana lagi hanya kapal motor yang menjadi satu-satunya alat transportasi untuk ke pulau Karimun Jawa.

Saya iseng bertanya kepada Tantri tentang alternatif liburan. Dia memberi dua opsi yaitu Umbul Ponggok di Klaten dan Dieng Plateu. Tak berapa lama Tantri mengirimi saya link tentang salah satu obyek trek pendakian gunung di dataran tinggi Dieng. Gunung Prau, begitu ketika saya membaca judul yang diberikan Tantri. Tanpa banyak berfikir saya setuju dengan pendakian Gunung Prau.

Perjalanan Jogja-Wonosobo-Dieng sekitar 2,5-3 jam  lewat Sapuran, Magelang. Setiba di Dieng kami menuju obyek Telaga Warna, Goa Semar dan Telaga Pengilon. Kemudian kami melanjutkan menuju Candi Arjuna dan Kawah Sikidang. Semua obyek tersebut memang menarik tapi saya jauh lebih tertarik dengan hamparan lading sayur-mayur yang ada di daratan tinggi Dieng. Saya jadi teringat ketika berkunjung ke Guci, Tegal. Secara kontur memang hampir mirip. Wortel, Sawi, Labu Siam, Kacang Koro dan Kentang sebagai primadona para petani setempat.



Setelah mengunjungi semua obyek wisata Dieng, kami memutuskan untuk memulai mendaki Gunung Prau. Kami berangkat dari Desa Kejajar. Perjalanan pendakian ditempuh selama 2,5 jam. Jujur saja saya sudah lama sekali tidak mendaki gunung. Mungkin terakhir kali ke Merapi itu pun semasa SMA. Selama perjalanan sesekali kami beristirahat. Saya melihat Penggok membawa cukup berat karena membawa tenda.



Gunung Prau memiliki beberapa vegetasi yang beragam seperti bunga-bunga kecil, cemara, pakis dan banyak lagi yang saya tidak tahu nama tumbuhannya. Dalam perjalanan saya menemui banyak tanaman murbey. Wow, sudah lama saya tidak menjumpai jenis tanaman ini. Oia, trek Gunung Prau cukup aman untuk dilalui. Tidak perlu khawatir hanya saja tidak ada sumber mata air selama perjalanan sampai ke puncak. Sumber mata air terakhir ada di Desa Kejajar.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

bajak