Jumat, 08 Maret 2013

Cerita Riset #6 - Nafkah dari Batu Bata

Musim kemarau adalah waktu yang tepat untuk memproduksi batu-bata. Ketika tanah persawahan mulai kesulitan pengairan salah satu solusinya adalah beralih profesi sebagai pembuat batu bata. Saya sempat menemui warga Karyo Mukti, Karangbrai, Comal yang akan membakar batu bata. Semua pekerja rata-rata sudah berusia lanjut.
 Ranting-ranting dipotong sebagai bahan bakar untuk memproses pembakaran batu bata

 Pada proses ini batu bata disusun sedemikian rupa, menghasilkan ruang-ruang sehingga ada tempat untuk ranting-ranting tersebut.

 Para pekerja ini biasanya tidak dibayar karena sistemnya sambatan. Sebuah sistem timbal balik, nanti suatu saat tuan rumah juga membantu jika ada para pekerja yang akan membakar batu-bata.

 Batu bata yang ini merupakan batu bata yang hasilnya kurang bagus sewaktu proses pembakaran. Tuan rumah berniat untuk membakarnya kembali untuk mendapatkan hasil yang sempurna. Batu bata yang sudah dibakar lagi tidak laku jika dijual melainkan hanya digunakan sendiri.

 Ada sekitar 8 pekerja, mereka membakarnya ketika malam hari. Terkadang masih ada sesajen agar hasil pembakarannya sempurna. Proses pembakarannya semalam dan baru dibongkar kira-kira 3 hari.

mereka membakar jika sudah mencapai 15.000-25.000 biji. Harga batu bata yang bagus mencapai Rp. 600/ 1000 biji.

Batu bata adalah sumber penghidupan sampingan ketika musim kemarau tiba. Memang tidak murah dalam memproduksi batu bata. Biaya termahal sewaktu melakukan proses pembakaran. Butuh kayu sekitar 3 trek/colt kayu dengan harga Rp.500.000-700.000. Belum biaya untuk pekerja memang adanya tidak dibayar namun sekarang sebagian besar dibayar dengan upah @Rp. 100.000. Tuan rumah juga harus menyiapkan makan dan minum. Satu tumpeng berikut satu ingkung/ayam utuh menjadi uba rampe yang harus ada ketika akan melakukan proses pembakaran. Terkadang dalam proses pembakaran terjadi roboh yaitu formasi batu bata rusak sehingga pembakaran tidak sempurna. Beberapa warga ketika saya tanyai hal itu karena tidak melakukan prosesi ritual sebelum melakukan pembakaran.


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

bajak