Selasa, 15 Januari 2013

#30HariMenulisSuratCinta - Payung Terkembang dan Tak Ada Asa Yang Terbuang

Dear, Clarita

“Di daerah sana hujan ngak ya?” tanyamu. “Aku ngak tahu, sepertinya hujan juga” jawabku. Pernah kita berada dalam satu payung yang besar. Hujan cukup deras, agenda hampir gagal setelah hujan tak kunjung reda. “Kamu ngak punya jas hujan?” tanyamu. Yah, jas hujan yang dulu aku beli sudah ku berikan pada Ibu.

Clarita, maaf jika kita masih sering kehujanan. Aku sedang berusaha mengumpulkan sesuatu yang bakal menjadi ‘kayu’. Mengais apa yang bakal menjadi ‘atap’. Dan itu yang kini sedang aku usahakan. Bukankah kita masih hidup di negara ketiga. Ketika siklus lahir, kerja dan berkeluarga menjadi patron wajib. Payung itu akan berubah menjadi atap, kayu-kayu yang aku cari akan mennjadi pondasi. Kita akan terlindung dari dinginnya hujan dan panasnya terik matahari.

Clarita, aku cuma tidak ingin ada yang terluka. Bukankah jodoh ditangan Tuhan dan kita sebagai manusia berusaha mempertahankannya?. Jika kamu memang jodohku, apa yang sedang aku perjuangankan kelak akan menjadi bagaian darimu. Jadi tidak ada yang menyakiti dan tersakiti. Tidak ada hati yang tersayat dan tidak ada pelaku penyayat. Jalan masih panjang, jalan masih misterius, jalan yang harus terus ditapaki.

                                                                                                                                                                                   Love,

                                                                                                                                                                                Dimaz Maulana 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

bajak