Senin, 14 Januari 2013

#30HariMenulisSuratCinta - Hujan


Dear, Clarita

Hujan sedang turun sewaktu aku menulis surat untukmu. Hujan. Ya, kamu pasti ingat dengan perkataan tukang parkir sewaktu kita belum jadian dulu. “Waduh ameh udan ki!” celetukku. “Walah mas, udan yo penak to” tutur tukang parkir dengan raut muka sumringah seraya memberi kode kepada saya. Itu mungkin pertama kalinya kita naik motor kehujanan berdua.

Hujan. Ya hujan suatu siklus dimana air laut mengalami penguapan dan dibawa angin menuju darat. Kemudian air tersebut jatuh karena tidak kuat membawa beban. Itu yang aku tahu sih. Mungkin kamu bertanya terus apa hubungannya dengan hujan? Mungkin kamu bertanya-tanya.

Hujan yang terdiri titik air yang turun kebumi. Titik-titik air yang saling mengikuti satu sama lain. Tetesan yang menghujam ke tanah dan satunya ikut jatuh menghujam. Titik air yang mampu menembus apa pun yang menghalanginya. Bahkan lewat titik-titik air hujan sebongkah batu bisa pecah.

Aku hanya ingin menjadi bagian dari mu, saling mengikuti. “Sudah tahu akan jatuh tapi mengapa kamu ikut jatuh juga?” perkataan teman saya sewaktu membicarakan hujan. Ini juga sama dengan lirik dari Melancholic Bitch, “Jika aku mati, kau kematian lainnya”.

Love,

Dimaz Maulana

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

bajak