Selasa, 11 Januari 2011

Day #9 Sahabat Merapi


Peristiwa meletusnya Gunung Merapi sempat membuat perkuliahan di UGM tempat saya belajar terganggu. Hampir seluruh mahasiwa turun menjadi relawan membantu ke lokasi bencana. Ada yang mengevakuasi korban, membantu merawat hewan ternak korban bencana Merapi, menangkap beberapa satwa dan menempatkan ke tempat yang lebih aman. Beberapa diantaranya adalah pekerjaan yang sangat membutuhkan tenaga dan keberanian. Kondisi kala itu memang sangat berat, debu vulkanik dan semburan awan panas setiap saat mengintai relawan yang diterjunkan, mereka tidak kenal lelah mencari korban yang masih terjebak ataupun yang sudah menjadi jasad.

Bagi saya yang bertubuh kecil dan tidak begitu berpengalaman dengan pekerjaan berat, seperti mencari korban di reruntuhan atau menangkap satwa untuk ditangkarkan. Akhirnya saya diajak oleh teman saya, Desta. Desta adalah seorang pemuda yang gemar dengan hal-hal yang berbau dengan seni, bisa dikatakan dia seniman muda kontemporer yang cukup terkenal di Jogjakarta. Dia membentuk sebuah komunitas kecil yang bernama “Minggu Pagi” yang memiliki kegiatan menggambar bersama setiap hari Minggu.

Akhirnya Desta beserta teman-temannya membawa “Minggu Pagi” ke barak pengungsian termasuk saya. Waktu itu barak pengungsian yang kami kunjungi adalah barak Maguwoharjo. Berkumpul di seputaran jalan solo, kami berangkat menju lokasi. Sesampai di lokasi kami sudah ditunggu oleh Intan, seorang mahasiswi UGM yang menjadi relawan. Intan lebih fokus dalam mengurus anak-anak, beberapa kegiatannya seperti membagi makanan, belajar, bernyanyi dan menggambar. Kemudian kami langsung menyapa anak-anak korban bencana Merapi. Mereka sangat bersahabat dengan kami, beberapa kertas kami keluarkan sembari membagi kepada anak-anak. Tak lupa pensil warna dan crayon kami keluarkan agar anak-anak bisa puas menggambar. Beberapa anak terlihat binggung, mereka binggung mau menggambar tentang apa. “Gambar wae Gunung Merapi” celetuk teman saya. Dan setelah celetukan itu anak-anak serasa mendapat inspirasi. Mereka menggambar Gunung Merapai dengan caranya masing-masing.

Gambar-gambar dari anak-anak korban Merapi, menyiratkan bahwa mereka masih sahabat Merapi. Walaupun mereka terpaksa mengungsi dari rumah, tidak bisa bersekolah, tapi mereka menerima. Tatapan sinar mata, senyum hingga tawa terhias dan terkembang kala itu, membuat kami bersemangat dalam menghibur. Meski kami bukan relawan yang melakukan pekerjaan yang berat, setidaknya kami sudah melakukan hal positif, sesuai dengan kemampuan yang dimiliki untuk mereka korban bencana Merapi.





2 komentar:

  1. kamu bisa terapkan di sekitarmu bersama teman-teman...tidak perlu menunggu bencana:)

    BalasHapus

bajak