Jumat, 22 Maret 2013

Bilik Curhat Siapa Pernah Coba?


Siapa yang suka curhat? semua orang pasti butuh menyalurkan uneg-uneg atau permasalahannya kepada orang lain yang bertindak sebagai pendengear setia. Ya, interaksi ini memang normal adanya. Namun teknologi memudahkan kita untuk curhat atau bercerita dua arah secara langsung tanpa dibatasi oleh jarak. Buktinya penemuan telepon oleh Alexander Graham Bell.

Tinggalkan Alexander, pernah ada suatu masa ketika banyak iklan di media massa yang menawarkan bilik-bilik curhat dua arah. Kemarin saya membaca koran Kedaulatan Rakyat terbitan tahun 2001. Cukup banyak iklan-iklan bergambar sensual yang menawarkan fasilitas bilik-bilik curhat. Nomor-nomor hotline terpampang jelas memudahkan kita untuk menghubunginya. Saya pribadi saat itu belum pernah mencoba selain takut biaya pulsa yang dikenakan setiap menitnya berkisar Rp. 3.250/menit. Harga yang mahal dan setara biaya interlokal ke Jakarta atau Bandung.

Pernah saya mendengar tetangga kampung saya menghabiskan tagihan telepon sampai 1 juta rupiah. Bilik curhat penyebab membengkaknya tagihan telepon. Lalu apakah penyebabnya? saya sedang mencari para pengguna fasilitas ini. Jika kamu pernah mencoba menghubungi bilik curhat bisa menceritakan kepada saya melalui balasan blog ini.



Rabu, 20 Maret 2013

Jogja Library Center Malioboro



Ada satu sudut menarik di jalan Malioboro tepatnya di depan hotel Inna Garuda yaitu Jogja Library Center (JLC). Bangunan tua dengan dua lantai ini memiliki fasilitas seperti privat room study, kumpulan surat kabar, majalah, dan buku. Lantai pertama untuk koleksi majalah dan surat kabar. JLC buka setiap Senin-Jumat (08.00-16.00) & Sabtu (08.00-13.00).


Saya sendiri suka membaca surat kabar di sini. JLC memiliki koleksi surat kabar dari tahun 1940-2008. Mulai dari Kedaulatan Rakyat, Kompas, Bernas, Sinpo, dan Keng Po. Ada dua cara yang dapat dilakukan untuk membaca koran di sini yaitu dengan membaca secara langsung yaitu mencari kumpulan koran di depo. Kedua, membaca dikomputer via pdf berbeda dengan fasilitas di Perpusnas, Jakarta yang memiliki alat micro reader yaitu alat untuk membaca koran seperti microskop. 

 Untuk koleksi majalah ada Hai, Gatra, Tempo, Djoko Lodhang dan Femina. Sebenarnya ada majalah yang lebih lawas lagi namun kondisinya sudah usang namun masih bisa diakses. Untuk mengakses majalah lawas seperti Kuncung bisa bertanya dengan petugas perpustakaan. 


 Untuk lantai atas berisi literatur populer serta gudang majalah serta surat kabar. Beberapa surat kabar 3 tahun terakhir masih dikumpulkan dan akan dibendel menjadi satu buku. Lantai atas biasanya digunakan beberapa orang untuk belajar kelompok. Perpustakaan ini juga dilengkapi dengan koneksi nirkabel atau wifi. Namun saya sering memanfaatkan fasilitas tersebut karena jaringannya masih lambat. Tapi tidak ada salahnya untuk memanfaatkannya.


Senin, 11 Maret 2013

Permainan Ketangkasan di Pabrik Gula Sragi


Dua hari sudah kami tinggal di Desa Karangbrai. Rencananya seminggu kami akan tinggal di sini untuk melakukan observasi awal. Waktu itu masuk bulan giling tebu. Pabrik gula di Comal memang sudah tidak aktif menggiling tebu. Hanya tinggal Pabrik Gula (PG) Sragi yang terletak di Pekalongan.

Menurut info dari warga setempat ada acara pasar malam bertempat di lingkungan PG Sragi. “Wah sopo reti ono kolok-kolok[1] tutur Sofyan. Salah satu teman saya ini memang tertarik judi, keinginannya menyelesaikan studi S1 tentang perjudian.



Akhirnya kami bisa berangkat ke Pasar Malam PG Sragi dengan bantuan sepeda motor dari Bu Lurah. Jalanan mulai padat ketika motor kami menyusuri pasar malam untuk mencari tempat parkir. Target awal kami memang mencari arena judi namun setelah menyisir ke semua sudut pasar malam tidak menemukannya. Nihil. Saya sempat bertanya dengan pengunjung ternyata judi di sini sudah tidak ada lagi.

Kami menemukan beberapa permainan ketangkasan yang menarik. Ya permainan ini sebenarnya juga perjudian namun dikemas lebih lembut. Permaian pertama yaitu melempar gelang-gelang rotan ke sebuah kayu segitiga. Kayu-kayu tersebut sudah diberi nomor yang menentukan hadiahnya. Harga yang dikenakan Rp. 1.000/ 3 gelang. Saya sempat mencoba namun gagal. Gelang-gelang yang saya lempar susah sekali masuk ke kayu.


 Saya melihat seorang pengunjung yang mencoba permainan ini. Pria itu berbadan tinggi hanya dengan mencondongkan badannya dan melempar gelang-gelang yang ada di tangannya. Dari beberapa gelang yang ada di tangannya, hampir sebagian besar masuk ke kayu segitiga. Pria itu mencari nomor yang berhadiah rokok. Seorang teman bertugas membawakan hasil perolehannya. Terlihat beberapa merk rokok filter sudah didapatnya. Selain itu sebotol besar minuman bersoda dan makanan ringan sudah didapatkannya.

Permainan kedua yaitu menutup lingkaran merah dengan tiga seng. Sepintas permainan ini mudah namun kenyataannya para pengunjung banyak yang gagal. Harga permaianan ini dipatok Rp. 1.000 untuk sekali permainan. Permainan ketiga yaitu melempar kaleng-kaleng usang yang disusun tinggi kemudian dilempar dengan bola tenis. Permainan ini yang menurut saya paling mudah dari semua permainan ketangkasan yang lain.

Akhirnya kami pulang ke rumah, hanya Sofyan yang berhasil mendapat sebotol minuman bersoda. Permainan yang ada di pasar malam lumayan menghibur. Setidaknya ada sekitar 15 stand permainan ketangkasan. Jika kamu sedang di Pekalongan pada bulan Mei-Juni sempatkanlah datang ke PG Sragi.




[1] Sebuah permainan judi di wilayah Kalimantan


Sabtu, 09 Maret 2013

Ayo ke Museum Lagi: Museum Gula Gondang Winangoen



Beberapa kali melintasi jalan Jogja-Solo, saya melihat sebuah papan nama bertuliskan “Museum Gula”. Saya merasa penasaran apa aja yang dipajang di dalam museum. Kemarin saya berangkat dari Jogja sekitar pukul 8.30. Perjalanan sekitar 20 menit dari Jogja. Museum ini terletak di Jogonalan, Klaten tepatnya tepi jalan Jogja-Solo sehingga cukup mudah untuk dikunjungi.


Harga tiket masuknya Rp. 5.000,- cukup murah dan masih terjangkau. Di halaman museum terdapat lokomotif tua yang sudah “istirahat”. Ada sebuah lokomotif yang diberi nama “Simbah” yang merupakan lokomotif tertua yang dimiliki pabrik gula ini.
Masuk ke dalam museum terdapat sebuah maket besar tentang bangunan pabrik serta daerah-daerah areal perkebunan tebu yang dimiliki pabrik ini. Terdapat juga mesin-mesin penggilingan tebu, alat-alat untuk menanam, jenis-jenis gulma, jenis hama, sampai peralatan kantor pabrik tersebut dari masa ke masa.



Museum ini tampaknya kurang terawat. Terlihat beberapa maket sudah rusak dan usang. Lampu-lampu penerangan benda-benda museum juga tidak menyala semua. Suasana museum terlihat gelap dan menyeramkan. Museum ini sebenarnya menarik untuk dikunjungi karena menambah informasi tentang seluk-beluk pabrik, tebu dan olahannya yaitu gula.

Satu hal lagi yang menarik dari berkunjung ke pabrik gula ini yaitu mengunjungi museum dan dilanjutkan dengan masuk kedalam pabrik. Namun perjalanan tersebut harus rombongan minimal 8-12 orang. Biaya yang dikenakan untuk masuk museum dan pabrik gula Rp. 10.000 namun ada juga paketan dari pabrik gula yaitu paket masuk museum, pabrik, dan eco park dengan menaiki lori. Untuk paket yang ini hanya bisa dilakukan minimal 30 orang.


Apakah kamu tertarik? Jika berminat bisa berangkat bersama-sama dari Jogja. Menikmati keindahan museum dan suasana pabrik gula. Pada bulan Mei merupakan bulan giling tebu jadi waktu yang tepat untuk berkunjung ke pabrik.



 foto oleh Dimaz Maulana dan Clarita Pinky D.

Jumat, 08 Maret 2013

Cerita Riset #6 - Nafkah dari Batu Bata

Musim kemarau adalah waktu yang tepat untuk memproduksi batu-bata. Ketika tanah persawahan mulai kesulitan pengairan salah satu solusinya adalah beralih profesi sebagai pembuat batu bata. Saya sempat menemui warga Karyo Mukti, Karangbrai, Comal yang akan membakar batu bata. Semua pekerja rata-rata sudah berusia lanjut.
 Ranting-ranting dipotong sebagai bahan bakar untuk memproses pembakaran batu bata

 Pada proses ini batu bata disusun sedemikian rupa, menghasilkan ruang-ruang sehingga ada tempat untuk ranting-ranting tersebut.

 Para pekerja ini biasanya tidak dibayar karena sistemnya sambatan. Sebuah sistem timbal balik, nanti suatu saat tuan rumah juga membantu jika ada para pekerja yang akan membakar batu-bata.

 Batu bata yang ini merupakan batu bata yang hasilnya kurang bagus sewaktu proses pembakaran. Tuan rumah berniat untuk membakarnya kembali untuk mendapatkan hasil yang sempurna. Batu bata yang sudah dibakar lagi tidak laku jika dijual melainkan hanya digunakan sendiri.

 Ada sekitar 8 pekerja, mereka membakarnya ketika malam hari. Terkadang masih ada sesajen agar hasil pembakarannya sempurna. Proses pembakarannya semalam dan baru dibongkar kira-kira 3 hari.

mereka membakar jika sudah mencapai 15.000-25.000 biji. Harga batu bata yang bagus mencapai Rp. 600/ 1000 biji.

Batu bata adalah sumber penghidupan sampingan ketika musim kemarau tiba. Memang tidak murah dalam memproduksi batu bata. Biaya termahal sewaktu melakukan proses pembakaran. Butuh kayu sekitar 3 trek/colt kayu dengan harga Rp.500.000-700.000. Belum biaya untuk pekerja memang adanya tidak dibayar namun sekarang sebagian besar dibayar dengan upah @Rp. 100.000. Tuan rumah juga harus menyiapkan makan dan minum. Satu tumpeng berikut satu ingkung/ayam utuh menjadi uba rampe yang harus ada ketika akan melakukan proses pembakaran. Terkadang dalam proses pembakaran terjadi roboh yaitu formasi batu bata rusak sehingga pembakaran tidak sempurna. Beberapa warga ketika saya tanyai hal itu karena tidak melakukan prosesi ritual sebelum melakukan pembakaran.


Senin, 18 Februari 2013

Suatu siang di Surabaya

 Saya sudah bersama dengan seorang teman sewaktu kuliah, Atria Sandhi atau yang lebih akrab di sapa bang Kobir. Siang itu Surabaya cukup terik. Kami sedang mengelilingi daerah perkotaan dan menepi ke depot es krim.

Zangradi begitu namanya ketika saya mengeja pada papan nama. Ketika itu masih dalam suasana natal sehingga tampak beberapa ornamen-ornamen yang menghiasi depot es. Kami memilih tempat outdoor sembari melihat kendaraan yang melintasi jalan seputaran kantor Gubernur Jawa Timur.

Saya memesan sate es krim dengan buah sedang Kobir memesan es krim dengan rum (saya lupa nama menunya). Menurut penilaian saya, menu yang saya pesan kurang oke. Mengapa? karena buah yang ada pada sate beku. Es krimnya kurang lembut. Sedangkan menu yang dipesan kobir sangat kuat aroma rum nya. Untuk menu yang dipesan Kobir, menurut saya tidak masalah. Harga yang ditawarkan masih terjangkau kog.

Dari Ujung ke Ujung Banjarmasin