Jumat, 22 Maret 2013
Bilik Curhat Siapa Pernah Coba?
Sabtu, 09 Maret 2013
Ayo ke Museum Lagi: Museum Gula Gondang Winangoen
foto oleh Dimaz Maulana dan Clarita Pinky D.
Jumat, 08 Maret 2013
Cerita Riset #6 - Nafkah dari Batu Bata
Jumat, 05 Oktober 2012
Kisah Antena TV - Cerita Riset #1
| Antena menjulang tinggi pada sebatang bambu |
Yap, sewaktu riset saya di tempatkan di sebuah desa yang jaraknya dari Comal, Pemalang sekitar 20 km. Desa Karang Brai begitu namanya. Jalanan berbatu langsung menyambut kami (saya bersama Sofyan dan Bram) begitu masuk gerbang Desa Karang Brai yang begitu gagah berupa huruf letters dari logam. Kami bertemu dengan Bu Lurah berserta pamong dan juga induk semang dimana kami akan tinggal.
Kegiatan sehari-hari saya adalah mewawancarai responden yang ada pada daftar. Jika sedang senggang biasanya saya sibuk memindah saluran TV. Saya mencari saluran tv yang menayangkan siaran live Liga Inggris namun apa daya tidak semua saluran TV dapat ditangkap dari desa ini.
Banyak batang-batang bambu menjulang tinggi namun apa daya saluran tinggi tak tertangkap. Seluruh TV di desa ini menggunakan boster sebagai penguat saluran TV. Ya, boster sudah begitu jarang digunakan di daerah perkotaan. Antena saja tidak perlu yang tinggi, cukup gunakan antena duduk diatas TV anda. Besok saya akan posting foto-foto antena lagi.
Sabtu, 09 Juni 2012
Bisma Hakim Anak Demang
| Bisma tampak dari depan, lihatlah di belakang ada Dito Yuwono yang belum make over. |
Bisma Hakim adalah seorang mahasiswa yang baru saja menempuh setengah dari masa studinya di kampus paling wangun nan membahana. Nah, pria yang satu ini juga gemar memasak. Beberapa kali kerap asik di dapur meracik pelbagai menu makanan. Apron bermotif beruang tak pernah lepas dari tubuh tambun nan subur. Ya, itulah Bisma Hakim yang mulai memiliki nama kontemporer Dedek Beruang.
Sabtu, 26 Mei 2012
Hutan Pinus
Getah menetes di setiap pohon pinus. Aku sempat melihat beberapa sayatan baru sepertinya ibu-ibu yang kami temui sebelum kami mulai memasuki hutan ini telah memperbarui sadapannya.
Perjalanan ditutup dengan berhenti di sebuah warung yang sedikit ndelik di daerah Imogiri Barat yaitu Sambel Welut Pak Sabar. Wow, kami memesan 3 menu yaitu sambel welut, welut goreng dan ikan gabus goreng. Menu di sini ternyata tidak cocok dihabiskan hanya dua orang saja. banyak sekali. Lelah sirna ketika aku yakin kamu puas dan senang dengan perjalanan ini.
Sabtu, 14 April 2012
PKB#1: Yuhana Setianingrum
Jumat, 09 Desember 2011
Screening Film “Walk Together, Rock Together”

Film ini bercerita tentang perjalanan band asal Jakarta, Superglad. Superglad tercipta karena kejenuhan Bulux dengan band sebelumnya, Waiting Room. Tindakan Bulux juga menyeret ketiga personil Waiting Room, Gio, Akbar dan Dadi yang kemudian membentuk Superglad. Waiting Room tidak bisa dipandang sebelah mata mereka berhasil merilis dua album, Propaganda (2000) dan Musik (2002).
Perkenalan saya dengan Superglad ketika salah satu band SMA teman saya mengcover salah satu lagu mereka, Slam Dance. Lagu ini cukup asik untuk moshing kemudian saya mendengarkan seluruh materi lagu Superglad (Ketika Hati Bicara) yang merupakan album kedua mereka. Setelah itu saya mulai jatuh hati dengan Superglad. Saat itu Superglad sesekali main di Televisi dan videoklipnya sering diputar di MTV.
Dalam film itu diceritakan bahwa para personil Superglad sangat tidak dekat dengan fans-nya. Mereka tidak memberikan jarak antara fans dengan si artis. Tyo dan Gomeng keduanya adalah teman SMA saya, mereka pernah bercerita kepada saya ketika menonton Superglad di Klaten dan Salatiga. Mereka menghampiri Superglad sampai ke hotel sama seperti apa yang digambarkan dalam film dokumenter. Saya sendiri pernah bertemu langsung ketemu dengan Bulux ketika mampir di Trax Fm, Jakarta. Bulux merupakan penyiar yang mengasuh acara “Kompak Kampus” bareng Jimi The Upstairs. Bulux sempat menawarkan kopi kepada saya. Saya menimpalinya dengan “Kapan nih Superglad main ke Jogja?”. Sudah lama sekali Superglad tidak bermain di Jogja, kebanyakan mereka main di seputaran Jawa Tengah.
Apakah kita tetap bisa muda? Film ini memberikan suatu pertanyaan tersirat didalamnya. Muda dalam artian kita tetap bisa main dengan teman sepermain sewaktu masih bujang? Setelah menikah praktis kita mengurus keluarga dan anak. Semacam cerminan untuk saya sendiri. Ya, akhirnya masa depan itu masih kabur, kita tidak tahu apa yang ada di depan dan yang penting MAJU TERUS.
Minggu, 30 Oktober 2011
Goa Kali Suci : Keindahan di Balik Gersangnya Gunung Kidul

“Piknik ki kudu dadakan, nek rencana terus kapan le mangkat?” – Lubex

Sesampai disana kami masih harus menunggu sekitar setengah jam karena Obwis cukup ramai pada hari itu. Sebelum turun ke Goa, kami menyantap nasi bungkus yang dibeli ketika akan berangkat. Petugas memanggil kami, kami pun bersiap-siap menuju Goa, lengkap dengan perlengkapan seperti helm, pelampung dan ban. Jarak dari pos ke arah goa sekitar 500 meter ditempuh dengan jalan kaki.

Sebuah goa telah menganga seraya menyambut kami. Petugas memandu kami untuk turun ke sungai, satu per satu dari kami sudah diatas ban. Arus sungai cukup tenang tidak begitu deras. Setelah melewati goa, kami berhenti sebentar untuk foto-foto. Kemudian, kami melanjutkan perjalanan lagi setelah melewati goa perjalanan selesai. Sebuah tebing yang cukup tinggi telah menunggu kami, dibantu dengan sebuah tambang kami menaiki tebing sambil membawa ban.
Tips:
1. Pastikan perut kamu terisi atau membawa nasi bungkus sebelum tracking.
2. Pakailah baju ketika turun ke Goa karena ketika sore udara akan terasa dingin.
3. Pakailah sandal karena jalan tracking cukup terjal.
4. Sebaiknya berangkat ke Obwis sekitar pukul 1 siang dan jangan datang terlalu sore.
Sabtu, 23 Juli 2011
Sekilas Tentang Permainan Sewaktu Kecil
“Ayo dolanan delikan dim!”
Delikan dalam bahasa Indonesia adalah petak umpet. Permainan ini merupakan permainan favorit saya dan beberapa teman sekampung saya. Saya dibesarkan di Desa Banguntapan, sebuah desa yang berada di pinggiran Kota Yogyakarta. Desa ini bisa dikatakan jauh untuk ke Ibukota Kabupaten Bantul namun cukup dekat untuk ke pusat kota Yogyakarta.
Waktu saya kecil, jalur ringroad sedang dibangun. Saya masih ingat, perempatan jalan Wonosari masih berwujud hutan dan jalannya begitu bagus. Disana juga masih terdapat belik atau mata air yang sering dimanfaatkan oleh warga sekitar untuk keperluan MCK. Selain itu tidak jauh dari belik terdapat juga belik serupa namun belik ini sudah dibuat seperti bangunan kamar mandi.
Kembali ke permainan favorit yang sering kami mainkan sewaktu kecil. Desa kami merupakan desa pecahan yang dipisahkan oleh jalan raya. Sehingga kami jarang berbaur dengan anak kampung sebelah dengan alasan harus menyebrang jalan raya. Teman sepermainan saya hanya terdiri dari tujuh anak-anak saja. Tapi itu tidak menyurutkan kami untuk bermain. Tercatat selain delikan, kami sering memainkan jamuran, engklek, jek-jekan, sepiring dua piring (saya lupa nama resmi permainan ini), umbul, tekpo, long bumbung, lonthok, layangan, gobag sodor, semarangan, sepak sekong, boy-boyan, masak-masakan, kotak-kotakan, yoyo, monopoli.
Untuk menyegarkan ingatan tentang jenis-jenis permainan yang saya sebutkan diatas, saya jelaskan secara singkat;
Jamuran : sebuah permainan yang bisa dimainkan dua orang atau lebih yang dimulai dengan sebuah nyanyian pembuka dan dilanjutkan dengan sub permainan, seperti jamur meja, jamur manuk dan lain sebagainya (jamur manuk berarti berubah menjadi burung)
Engklek : permainan yang membutuhkan ketangkasan dalam melompati setiap kotak-kotak dengan satu kaki. Permainan ini semakin banyak yang bermain semakin seru.
Jek-jekan : dibutuhkan dua buah tempat sebagai tempat untuk hinggap yang ditasbihkan sebagai markas. Setiap kelompok diharuskan menguasai markas milik lawan dengan cara memegangnya.
Serpiring dua piring : sebetulnya nama tersebut aalah opening dari sebuah lagu yang selalu dinyanyikan sebelum memainkan permainan ini. Permainan memiliki dasar lari dan setiap kali memegang lawan harus menyebutkan nama yang sudah ditetapkan sebelumnya.
Umbul dan tekpo : permainan ini dimainkan dengan kartu-kartu bergambar. Umbul dimainkan dengan cara diumbul untuk menentukan siapa pemenangnya. Sedang Tekpo dimainkan dengan cara menumpuk kartu dengan sama tinggi dan dibuka untuk melihat angka yang ada di kartu. Angka tertinggi adalah pemenangnya.
Long Bumbung : permainan ini wajib dimainkan ketika puasa. Bambu sebagai bahan dasar dan minyak sebagai bahan bakarnya menjadi teman menanti buka puasa.
Lonthok : berbahan dasar dengan bamboo juga seperti long bumbung tetapi bambu yang digunakan lebih kecil sekitar 4cm saja. Selain itu diperlukan Koran sebagai pelurunya.
Layangan : permainan ini sangat pas dimainkan ketika musim kemarau, ketika banyak angin dan dimainkan di sawah yang telah dipanen.
Gobag sodor : permainan ini dimainkan di tempat yang luas. Diperlukan kecepatan berlari dan kelihaian dalam mengelabui musuh.
Sepak sekong : permainan ini hampir sama seperti petak umpet tetapi ada tambahan beberapa ranting yang harus disusun seperti api unggun. Penjaga api unggung harus mencari musuh dan harus tetap menjaga ranting tersebut agar tetap tegak.
Boy-boyan : serupa dengan sepak sekong tapi medianya adalah bola kasti dan pecahan genting yang disusun tumpuk-tumpuk keatas.
Masak-masakan : meski tidak menggunakan bahan-bahan yang bisa dimakan, kami menggunakan api betulan. Dengan kaleng bekas yang diisi air lalu ditunggu sampai matang. Seperti itulah permainannya.
Kotak-kotakan : permainan ini menyusun balok-balok kayu yang bisa disusun menjadi rumah, mobil dan lain sebagainya tergantung imajinasi pembuatnya.
Yoyo: permainan ini sangat seru ketika dimainkan dengan cara saling menghancurkan yoyo.
Monopoli: meski hanya bisa dimainkan empat orang aja tetap saja permainan ini sering dimainkan terutama ketika puasa.
Mungkin kamu pernah memainkan permainan yang saya sebutkan. Beberapa tempat memiliki nama dan peraturan yang berbeda. Selain itu, Saya juga memainkan beberapa permainan modern seperti Nintendo, gameboy dan lain sebagainya. Namun saya masih memainkan beberapa permainan tradisional. Semoga permainan-permainan tradisional itu masih terus bertahan.
Rabu, 20 Juli 2011
Pembukaan LIR Space


Bertempat di LIR Shop dan menjadi tonggak dibukanya LIR Space yang dibuka untuk orang-orang yang ingin mempresentasikan karya seni. Ruangnya memang sempit hanya seluas kamar kostmu. Tapi, percayalah ruang ini jauh lebih dalam dari apapun itu dan ketika diisi karya pastikan kamu tenggelam didalamnya.

Ingin tahu lebih lengkap tentang “Have We Met” silakan mampir www.ditoyuwono.com
Penjaga Toko dan Esensi Sebuah Kemenangan
Penjaga toko itu menari-menari sambil membawa sapu dan kemoceng. Tawanya lepas sambil melihat saya yang sedang menunggu menyeberang padatnya jalan Gejayan.
Sepulang dari makan di daerah Deresan saya memutuskan untuk pulang. Saya memang biasa lewat gang Alamanda jika dari daerah Deresan. Kali ini lain sekali, saya melihat para pegawai toko tas yang ada tepat di depan potongan jalan Gejayan, sedang heboh menari-nari dan berjoget. Mata saya pun tidak bisa terlepas dari pemandangan tersebut. Para pegawai yang sedang berjoget pun juga pasti tahu kalau menjadi pusat perhatian. Tandanya mata mereka mengarah ke jalan dan lebih tepatnya memandang ke arah saya.
Saya berpikir sejenak, oia, sekarang sudah jam 9 malam, tandanya toko akan tutup. Mungkin mereka menari-nari untuk merayakan sebuah kemenangan hari ini. Kemenangan dari selesaianya sebuah kewajiban kerja yang setiap hari mereka lakukan. Datang jam 8 atau jam 9 pagi dan bekerja sampai jam 9 atau 10 malam. Hal itu dilakukan setiap hari, mungkin setiap bulan hanya diberi jatah libur dua sampai tiga hari dengan catatan tidak mendapatkan gaji.
Kembali ke esensi dari sebuah kemenangan. Mengapa kita harus merayakan sebuah kemenangan? rasanya jawabanya adalah kita butuh suatu aktifitas yang bisa memuaskan diri kita atas sebuah pencapaian yang telah tercapai. Mungkin sama kasusnya dengan teman-teman saya yang telah menyelesaikan studi mereka di jenjang perkuliahan dengan mentraktir teman-teman seangkatannya.
Pikiran saya kembali pada sebuah esensi kemenangan. Dalam perjalanan pulang saya sempat memikirkan esensi kemenangan. Laju motor saya melewati daerah Demangan Baru. Sebentar lagi bulan Puasa akan tiba. Akankah saya mendapatkan esensi dari sebuah kemenangan di bulan penuh berkah?
Saya selalu rajin berpuasa setiap kali Ramadhan. Ketika teman-teman saya ‘cabut’ dari puasa, saya masih bertahan sampai suara adzan Maghrib berkumandang. Godaan seperti teman saya yang sedang makan disamping saya bukan merupakan godaan yang berarti.
Tapi, dari tahun ketahun saya belum bisa mendapatkan sebuah kemenangan yang selama ini yang saya cari. Kemenangan seperti tawa pegawai toko tas itu. Luwesnya senyuman yang tercipta. Ketika sholat saya penuh dengan lubang dan panggilan sholat Jum’at terkadang di/terlupakan. Namun saya masih menjalankan perintah -Nya dan tetap berusaha menjauhi semua larangan –Nya.
Semoga tahun ini ada sebuah perubahan. Bukankah Ramadhan berarti sebuah lembaran baru yang harus meningkat setiap tahunnya. Kata-kata itu saya dapat ketika ceramah sholat Jum’at sewaktu KKN. Tapi, ah saya terlalu banyak kata ‘tapi’, selalu mempertanyakan kembali, sebenarnya itu tidak baik. Lakukanlah yang terbaik itulah kuncinya.
#ditulis sembari mendengarkan tembang “Into The Light” milik Adhitia Sofyan dengan kondisi sehabis mandiMinggu, 17 Juli 2011
In The Woods: Sensasi Piknik Bersama Risky Summerbee and The Honeythief

Apa jadinya jika sebuah band bermain diantara pepohonan dengan suasana piknik? Konsep pertunjukan model semacam ini sangatlah jarang kita temui. Tapi berkat Lir Shop dan Risky Summerbee and The Honeythief (RSTH) bayang-bayang konsep itu terwujud. Acara yang bertajuk ‘In The Woods’ digelar di rumah Mbak Mira (owner Lir Shop) yang berada di daerah Kaliurang.
Meski jarak yang ditempuh cukup jauh sekitar 25km dari pusat kota tapi tidak menjadi penghalang untuk mereka yang datang ke acara ini. Saya sendiri datang bersama teman-teman dan sempat kesasar karena tidak menemukan venue. Ternyata yang kesasar tidak hanya kami saja tetapi ada beberapa orang yang mengalami hal serupa.
Sebuah gerbang dari kayu menjadi pintu yang menghubungkan kearah hutan. Dari kejauhan tampak beberapa orang sedang duduk-duduk di tikar yang sudah disediakan oleh panitia. Tampak juga beberapa stand yang berupa stand makanan yang diisi oleh Mooi yang menyediakan pasta, buah segar, gingerbeer dan masih banyak yang lain. Menengok ke stand Summer Spring yang menjual pakaian dan terakhir stand mainan. Stand mainan disana saya menemukan CD, kaos, hingga permainan lawas seperti balon karet yang dijual dengan harga 1000 per lima biji.
Risky Sasono (vokalis RSTH) sedang mempersiapkan gitarnya dan tidak beberapa lama RSTH memainkan lagu dengan konsep akustikan. Cuaca yang cerah ditambah dengan angin yang semilir RSTH memulai lagu-lagunya. Saya pikir RSTH hanya bermain secara akustik saja. Sekitar 20 menit perform mereka selesai. “Oke, sebentar lagi kami akan memainkan fullset di bawah sana” tutur Risky Sasono.

RSTH akhirnya siap memainkan secara fullset. Seluruh lagu dalam album “The Place I Wanna Go” dihajar oleh RSTH. Pada lagu “Fireflies” semua penonton ikut bernyanyi dan bertepuk tangan. Turut tampil juga Asa Rahmana dari Belkastrelka yang ikut mengisi sebagai guest vocal.
Ah, rasanya tulisan saya tidaklah bagus. Terlalu susah untuk menulis acara In The woods. Biarkan badanmu rilek, menyiapkan telinga dan bersiap mendengar RSTH membawakan lagu-lagunya. Ditemani sekantong stroberi segar sambil merasakan udara segar Kaliurang.
Foto: Komang SA dan Dimaz Maulana
Jumat, 15 Juli 2011
Sepotong Kenangan Bersama Kawan Yang Telah Berpulang
“Tau Nanang? Tmn smp ank kls c. td meninggal dunia”.
Itu merupakan sms yang dikirim oleh Imam, teman saya. Sebuah berita duka. Kemudian saya mengingat sosok Nanang. Maklum, teman SMP jadi agak sedikit lupa. Badannya tinggi dan saya piker dia lebih tua dua tahun dari saya. Dia juga pernah tinggal kelas sepertinya. Saya jadi teringat kenangan tentang Alm. Nanang. Seorang guru pernah menegurnya karena dia mengambari celananya dengan tipe-x. Parahnya gambar itu dibuat tepat pada depan celana, tepat kain depan retsleting dengan gambar tanda ‘?’.
“Urip iku mung mampir ngombe” sebuah pepatah Jawa yang telah lama saya dengar. Beberapa teman saya juga ‘pergi’. Saya coba meningat-ingat kembali tentang mereka.
Hasim, sebenarnya dia teman kakak saya, tapi karena saya sering main ke kosnya kami jadi berteman. Hasim adalah sosok yang humoris dan sering menghadirkan celetukan-celetukan yang asik. “Tombok sithik wae bos” salah satu andalannya. Saya juga pernah merekam celetukannya untuk ringtone handphoe. Tapi sepertinya tertinggal di komputernya. “Pil kowe reti ra? Hasim meninggal.” Kata Hanung di kantin SMA. Saya langsung bertanya kepada kakak saya dan benar Hasim meninggal dunia. Dia menderita penyakit dalam yang kronis dan tidak pernah bercerita kepada teman-temannya.
*****
Oia seorang teman SMP saya dikabarkan mengalami kecelakaan di jalan Kaliurang. Ari namanya, saya cukup kenal dengannya. Meski berbeda kelas saya sering ngobrol dengannya entah dikantin atau sewaktu pulang sekolah. Kebetulan depan rumah saya merupakan tempat nongkrong anak-anak SMP. Naas dia mengalami kecelakaan yang merenggut nyawanya.
*****
Dia adalah adik kelas SMA. Badannya gemuk dan sering bersepeda sewaktu SMA. Dia sering bersepeda jauh sebelum tren fixie merebak dikalangan anak muda. Saya sering menjumpainya di Mushola SMA saya. Orangnya taat beribadah. Dia sama seperti teman-temannya bergaul dan bermain bersama. Tidak ada sesuatu hal yang mengisyaratkan bahwa dia sakit. Tapi setelah saya lulus SMA saya jarang bertemu dengannya. Dan sebuah berita duka dengannya sampai ketelinga saya. Dia meninggal sebelum lulus SMA.
*****
Fendy Raka. Saya mengenalnya sejak saya bekerja di 49Corner. Sosoknya sumeh namun pendiam. Tapi sesekali saya mengajaknya ngobrol sembari bermain playstation milik kantor. Namun tidak berapa lama dia keluar dari kantor dengan alasan ingin membuka usaha. Akhirnya dia membuka sebuah lapak sup buah di Magelang. Tidak berapa lama yang mendengarnya dia sudah tidak melanjutkan usahanya lagi. Namun dia sering ke Jogja dan masih sering mampir ke kantor. “Njaluk dongane wae yo pil” sepotong balasan sms dari mas Andy membalas sms dari saya. Saya tidak bisa hadir waktu pemakamannya. Waktu itu saya sedang KKN dan sedang ada program. Ah, senyumanmu masih terngiang dibenakku. Pernah sewaktu malam saya iseng membuka akun facebooknya dan saya membaca komen-komen yang masuk. “Hari ini aku datang ke makammu mas.” tulis seorang perempuan.
Selamat jalan teman. Entah sedang apa kau disana yang jelas saya pasti akan ke alam mu juga. Sekali lagi hidup hanya sementara dan pasti kita akan kembali kepada-Nya.
Kamis, 07 Juli 2011
Projek Mixtape 'JogJakarta'
Lagu apa yang pernah menjadi ‘soundtrack’ tentang kota Jogja atau Jakarta?
Saya yakin kamu pasti memilikinya, coba diingat-ingat. Dimana romatika ada di dalamnya, menyelimuti keadaanmu. Suasana saat itu mungkin bisa senang, sedih, gundah atau bahkan bingung tak karuan. Disini saya mengajak kamu untuk berkontibusi dalam projek mixtape saya.
Mixtape? Mixtape adalah kumpulan lagu yang dikemas dalam kaset tape. Karena sekarang kaset tape sudah minim penggunannya jadi kebanyakan mixtape dikemas dalam bentuk CD.
Mixtape saya berkisah tentang kumpulan cerita-cerita yang pernah terjadi di Jogja atau Jakarta. Jadi saya mengharapkan kamu mengirimkan cerita kamu yang terwakili oleh sebuah ‘soundtrack’ lagu. Lagunya bebas bisa dari genre apapun bisa pop, rock, metal, dangdut, atau apalah bebas. Band Indonesia ataupun mancanegara tidak menjadi masalah. Boleh.
Sebagai gambaran saya beri contoh cerita saya;
Andien – Gemintang
Sekitar tahun 2009, saya pergi dengan teman saya ke pantai Samas. Hari itu hari rabu saya masih ingat betul. Sesampai di pantai kondisi sudah mulai malam, kami ketinggalan sunset. Akhirnya kami duduk-duduk di pinggir pantai. Saya sambil memandang bintang-bintang yang mulai muncul satu per satu. Kami mengobrol seperti biasa. Kebetulan handphone saya ada pemutar musiknya, saya memilih lagu-lagu dan berhenti pada Andien. Lagu ‘Gemintang’ mulai terdengar kemudian saya menyanyi lirih sambil melihat bintang-bintang. Sekitar pukul delapan malam kami begegas pulang. Diperjalanan saya menanyakan lagi tentang perasaan saya kepadanya. Tapi ternyata, tidak bisa menerima saya. Jelas saya cukup kecewa dibuatnya. Dan, lagu Andien mengingatkan saya tentang cerita pada waktu itu.
Seperti itu cerita saya. Kalau cerita kamu?
Jika kamu berani bercerita? Silakan kirim cerita kamu serta lagu kepada saya.
Hubungi: (0274) 9151901
Twitter: @dimazmaulanaa
Selasa, 28 Juni 2011
"Get Lost!" Pameran Residensi oleh Dainam Kim

salah satu karya Dainam Kim
Dainam Kim, seorang fotografer asal Korea Selatan menggelar pameran residensi yang bertajuk “Get Lose!”. Kim dalam pameran “Get Lose!” mempresentasikan gardu. Gardu adalah sebuah tempat yang berfungsi untuk tempat beristirahat ketika ronda atau jaga malam. Dalam pamerannya Kim merespon bentuk-bentuk gardu yang ada di Yogyakarta. Kebanyakan foto-foto yang di hasilkan oleh Kim terkesan hening. Hening di sini terlihat dari beberapa foto yang hanya berupa bentuk gardu semata, tidak ada interaksi orang-orang yang ada disana. Tapi, Kim juga merespon sisi semiotik yang ada pada gardu, misalnya adanya gardu yang dilengkapi dengan televisi atau radio. Kemudian logo-logo partai politik dan iklan-iklan komersial. Awalnya memang gardu hanya berupa bangunan sederhana. Sedikit meleset dari pengantar yang ditulis oleh Antariksa, yang membahas gardu adalah tempat berkumpul dan mengalami perubahan dalam setiap pemerintahan. Mulai dari jaman kolonial hingga era reformasi, fungsi gardu mengalami perubahan.
Gardu merupakan ruang yang menjadi tempat bertukarnya informasi. Obrolan apa saja bisa terjadi disini. Saya jadi teringat, dibeberapa daerah gardu merupakan tempat berkumpul para pemuda setiap sore sampai menjelang malam. Mereka mulai berkumpul biasanya sekitar pukul 4 sore dengan dandanan necis dengan motor yang sudah kinclong. Entah, apakah fungsi gardu masih berupa ruang berkumpul atau sudah tenggelam oleh kesibukan orang-orang kampung? Lihat sekitar anda, bagaimana kondisi gardu tersebut.
Bila berminat silakan datang pada acara Artist Talk;
Kamis, 30 Juni 2011 | bertempat di Mes 56
* foto oleh Dainam Kim dari www.mes56.com

