Dearmom's

Tampilkan postingan dengan label 30 hari menulis. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label 30 hari menulis. Tampilkan semua postingan

Jumat, 22 Maret 2013

Bilik Curhat Siapa Pernah Coba?


Siapa yang suka curhat? semua orang pasti butuh menyalurkan uneg-uneg atau permasalahannya kepada orang lain yang bertindak sebagai pendengear setia. Ya, interaksi ini memang normal adanya. Namun teknologi memudahkan kita untuk curhat atau bercerita dua arah secara langsung tanpa dibatasi oleh jarak. Buktinya penemuan telepon oleh Alexander Graham Bell.

Tinggalkan Alexander, pernah ada suatu masa ketika banyak iklan di media massa yang menawarkan bilik-bilik curhat dua arah. Kemarin saya membaca koran Kedaulatan Rakyat terbitan tahun 2001. Cukup banyak iklan-iklan bergambar sensual yang menawarkan fasilitas bilik-bilik curhat. Nomor-nomor hotline terpampang jelas memudahkan kita untuk menghubunginya. Saya pribadi saat itu belum pernah mencoba selain takut biaya pulsa yang dikenakan setiap menitnya berkisar Rp. 3.250/menit. Harga yang mahal dan setara biaya interlokal ke Jakarta atau Bandung.

Pernah saya mendengar tetangga kampung saya menghabiskan tagihan telepon sampai 1 juta rupiah. Bilik curhat penyebab membengkaknya tagihan telepon. Lalu apakah penyebabnya? saya sedang mencari para pengguna fasilitas ini. Jika kamu pernah mencoba menghubungi bilik curhat bisa menceritakan kepada saya melalui balasan blog ini.



Sabtu, 09 Maret 2013

Ayo ke Museum Lagi: Museum Gula Gondang Winangoen



Beberapa kali melintasi jalan Jogja-Solo, saya melihat sebuah papan nama bertuliskan “Museum Gula”. Saya merasa penasaran apa aja yang dipajang di dalam museum. Kemarin saya berangkat dari Jogja sekitar pukul 8.30. Perjalanan sekitar 20 menit dari Jogja. Museum ini terletak di Jogonalan, Klaten tepatnya tepi jalan Jogja-Solo sehingga cukup mudah untuk dikunjungi.


Harga tiket masuknya Rp. 5.000,- cukup murah dan masih terjangkau. Di halaman museum terdapat lokomotif tua yang sudah “istirahat”. Ada sebuah lokomotif yang diberi nama “Simbah” yang merupakan lokomotif tertua yang dimiliki pabrik gula ini.
Masuk ke dalam museum terdapat sebuah maket besar tentang bangunan pabrik serta daerah-daerah areal perkebunan tebu yang dimiliki pabrik ini. Terdapat juga mesin-mesin penggilingan tebu, alat-alat untuk menanam, jenis-jenis gulma, jenis hama, sampai peralatan kantor pabrik tersebut dari masa ke masa.



Museum ini tampaknya kurang terawat. Terlihat beberapa maket sudah rusak dan usang. Lampu-lampu penerangan benda-benda museum juga tidak menyala semua. Suasana museum terlihat gelap dan menyeramkan. Museum ini sebenarnya menarik untuk dikunjungi karena menambah informasi tentang seluk-beluk pabrik, tebu dan olahannya yaitu gula.

Satu hal lagi yang menarik dari berkunjung ke pabrik gula ini yaitu mengunjungi museum dan dilanjutkan dengan masuk kedalam pabrik. Namun perjalanan tersebut harus rombongan minimal 8-12 orang. Biaya yang dikenakan untuk masuk museum dan pabrik gula Rp. 10.000 namun ada juga paketan dari pabrik gula yaitu paket masuk museum, pabrik, dan eco park dengan menaiki lori. Untuk paket yang ini hanya bisa dilakukan minimal 30 orang.


Apakah kamu tertarik? Jika berminat bisa berangkat bersama-sama dari Jogja. Menikmati keindahan museum dan suasana pabrik gula. Pada bulan Mei merupakan bulan giling tebu jadi waktu yang tepat untuk berkunjung ke pabrik.



 foto oleh Dimaz Maulana dan Clarita Pinky D.

Jumat, 08 Maret 2013

Cerita Riset #6 - Nafkah dari Batu Bata

Musim kemarau adalah waktu yang tepat untuk memproduksi batu-bata. Ketika tanah persawahan mulai kesulitan pengairan salah satu solusinya adalah beralih profesi sebagai pembuat batu bata. Saya sempat menemui warga Karyo Mukti, Karangbrai, Comal yang akan membakar batu bata. Semua pekerja rata-rata sudah berusia lanjut.
 Ranting-ranting dipotong sebagai bahan bakar untuk memproses pembakaran batu bata

 Pada proses ini batu bata disusun sedemikian rupa, menghasilkan ruang-ruang sehingga ada tempat untuk ranting-ranting tersebut.

 Para pekerja ini biasanya tidak dibayar karena sistemnya sambatan. Sebuah sistem timbal balik, nanti suatu saat tuan rumah juga membantu jika ada para pekerja yang akan membakar batu-bata.

 Batu bata yang ini merupakan batu bata yang hasilnya kurang bagus sewaktu proses pembakaran. Tuan rumah berniat untuk membakarnya kembali untuk mendapatkan hasil yang sempurna. Batu bata yang sudah dibakar lagi tidak laku jika dijual melainkan hanya digunakan sendiri.

 Ada sekitar 8 pekerja, mereka membakarnya ketika malam hari. Terkadang masih ada sesajen agar hasil pembakarannya sempurna. Proses pembakarannya semalam dan baru dibongkar kira-kira 3 hari.

mereka membakar jika sudah mencapai 15.000-25.000 biji. Harga batu bata yang bagus mencapai Rp. 600/ 1000 biji.

Batu bata adalah sumber penghidupan sampingan ketika musim kemarau tiba. Memang tidak murah dalam memproduksi batu bata. Biaya termahal sewaktu melakukan proses pembakaran. Butuh kayu sekitar 3 trek/colt kayu dengan harga Rp.500.000-700.000. Belum biaya untuk pekerja memang adanya tidak dibayar namun sekarang sebagian besar dibayar dengan upah @Rp. 100.000. Tuan rumah juga harus menyiapkan makan dan minum. Satu tumpeng berikut satu ingkung/ayam utuh menjadi uba rampe yang harus ada ketika akan melakukan proses pembakaran. Terkadang dalam proses pembakaran terjadi roboh yaitu formasi batu bata rusak sehingga pembakaran tidak sempurna. Beberapa warga ketika saya tanyai hal itu karena tidak melakukan prosesi ritual sebelum melakukan pembakaran.


Jumat, 05 Oktober 2012

Kisah Antena TV - Cerita Riset #1

Antena menjulang tinggi pada sebatang bambu
Akhirnya saya pulang ke Jogja setelah sekitar dua bulan mengikuti riset bersama Profesor dari Jepang dan Mas Pujo dari Antropologi UGM. Saya hanya ingin bercerita tentang kegiatan saya di sana yang mungkin hanya remeh-temeh tapi tak masalah bagi saya karena saya hanya ingin menyalurkan lagi hobi menulis yang kemarin tersendat.

Yap, sewaktu riset saya di tempatkan di sebuah desa yang jaraknya dari Comal, Pemalang sekitar 20 km. Desa Karang Brai begitu namanya. Jalanan berbatu langsung menyambut kami (saya bersama Sofyan dan Bram) begitu masuk gerbang Desa Karang Brai yang begitu gagah berupa huruf letters dari logam. Kami bertemu dengan Bu Lurah berserta pamong dan juga induk semang dimana kami akan tinggal.

Kegiatan sehari-hari saya adalah mewawancarai responden yang ada pada daftar. Jika sedang senggang biasanya saya sibuk memindah saluran TV. Saya mencari saluran tv yang menayangkan siaran live Liga Inggris namun apa daya tidak semua saluran TV dapat ditangkap dari desa ini.

Banyak batang-batang bambu menjulang tinggi namun apa daya saluran tinggi tak tertangkap. Seluruh TV di desa ini menggunakan boster sebagai penguat saluran TV. Ya, boster sudah begitu jarang digunakan di daerah perkotaan. Antena saja tidak perlu yang tinggi, cukup gunakan antena duduk diatas TV anda. Besok saya akan posting foto-foto antena lagi.

Sabtu, 09 Juni 2012

Bisma Hakim Anak Demang

Bisma tampak dari depan,
lihatlah di belakang ada Dito Yuwono yang belum make over.
Beberapa hari lalu banyak beredar kabar tentang Dito Yuwono yang berganti penampilan. Berbagai spekulasi menyeruak namun itu bukan menjadi kajian untuk saat ini. Tinggalkan Dito Yuwono yang sekarang sudah lebih tampak ndendy dari sebelumnya. Lihatlah sekarang brand ambassador kami dari Dimky Foundation, Bisma Hakim. Siapakah Bisma Hakim?

Bisma Hakim adalah seorang mahasiswa yang baru saja menempuh setengah dari masa studinya di kampus paling wangun nan membahana. Nah, pria yang satu ini juga gemar memasak. Beberapa kali kerap asik di dapur meracik pelbagai menu makanan. Apron bermotif beruang tak pernah lepas dari tubuh tambun nan subur. Ya, itulah Bisma Hakim yang mulai memiliki nama kontemporer Dedek Beruang.





Minggu lalu kami berkesempatan memotret keseharian Bisma Hakim. Tampil trendy dengan balutan t-shirt hitam, topi jerami dan sendal karet. Ketika ditemui oleh staf dari Dimky Foundation, Bisma sedang angon anjing pinjamannya yang berjenis Siberian Husky. Kami diajak berkeliling pekarangan miliknya yang luasnya sejauh mata memandang tidak bisa diukur. Sepintas, Bisma layaknya ada Demang atau Wedana yang saben hari cuma ngeteh dan baca koran kemudian jalan-jalan mengawasi pekerjanya. 








Sabtu, 26 Mei 2012

Hutan Pinus


Langkah kami menanjak menaiki hutan Pinus. Suasana sejuk langsung menyambut kami. Ku lihat raut wajahnya sumingrah melihat menjulangnya pohon-pohon pinus di hutan ini. Perut kami juga sudah terisi karena beberapa jam sebelumnya kami sukses melahap semangkok sop ayam.

Getah menetes di setiap pohon pinus. Aku sempat melihat beberapa sayatan baru sepertinya ibu-ibu yang kami temui sebelum kami mulai memasuki hutan ini telah memperbarui sadapannya.


Ah, hutan ini tidak terlalu luas dan itu adalah nilai asiknya. Mengapa? karena kami tidak ingin menyusurinya terlalu dalam, cukup berada di tempat yang masih terjangkau. Aku berhasil memotretmu dengan kamera digital ini. Tidak salah jika kami membawa tripod, kami bisa mengabadikan momen melalui foto berdua. Ya, kameraku kini sudah mengenalmu sayang, kamu sudah direkam oleh kamera keluaran Canon seri 350D ini.

Perjalanan ditutup dengan berhenti di sebuah warung yang sedikit ndelik di daerah Imogiri Barat yaitu Sambel Welut Pak Sabar. Wow, kami memesan 3 menu yaitu sambel welut, welut goreng dan ikan gabus goreng. Menu di sini ternyata tidak cocok dihabiskan hanya dua orang saja. banyak sekali. Lelah sirna ketika aku yakin kamu puas dan senang dengan perjalanan ini.











Sabtu, 14 April 2012

PKB#1: Yuhana Setianingrum

Ada beberapa pertanyaan ketika Yuhana Setianingrum atau sering disapa Jo akan maju pendadaran. Ada yang ingin saya ketahui dari Jo tentang pengalaman gonta-ganti kampus, pengalaman apa yang didapat di kampus, tentang masa depan. Jo, pencinta Jimi Hendrix yang sempat gagal menyandang gelar S, Sn. dan ST kini bersiap menerima gelar sarjana, S.S., setelah merampungkan studinya di jurusan Sejarah UGM.





Bisa ceritain Jo, tentang kegagalan kamu di dua kampus itu? padahal jurusannya cukup OK.

Gimana ya Pil, mungkin aku akan bilang itu takdir. Perkenalan dengan ISI (Institut Seni Indonesia) sebenarnya karena mas ku memiliki pengaruh yg kuat, saran, masukan, lingkungan dan teman-temannya, kemudian membentuk pola pikiranku untuk mau tidak mau jatuh hati dengan ISI. Taukah apa yang ada pada benakku waktu itu? ISI itu keren dan nyeni! Di mataku ISI itu kampus segalanya. Karena semua hal itulah maka aku memutuskan untuk memilih ISI sebagai pelabuhan untuk menimba ilmu, aku pun ikut ujian ISI masuk jurusan Media Rekam.

Kenapa memilih Jurusan Media Rekam?

Karena itulah salah satu jurusan yang tidak mengharuskan mahasiswanya mempunyai bakat khusus, menggambar, atau apapun yang spesifik yang berbau seni murni dan aku sendiri tidak punya bakat seni. Sebelum ujian masuk ISI, aku ikut semacam bimbingan informal yg diadakan sama mahasiswa sana (ISI – pen).

           Waktu itu Aku tidak sendirian tetapi bersama Coco, teman SMA. Kami semua begitu antusias dan menggebu-gebu karena kami benar-benar berharap bisa diterima yang merupakan impian kami selama ini. Dia memilih jurusan yang lebih cadas, jurusan Seni Murni, lukis. Pada akhirnya beberapa hari menjelang ujian, tiba-tiba perasaan antusias, semangat, dan menggebu-gebuku untuk masuk ISI lenyap seketika pil. Jujur aku sedih banget wktu itu Kenapa bisa seperti itu? kalo boleh aku jujur, aku bahkan sempat berfikir gila buat menabrakkan diri di tembok atau masuk got supaya aku tidak bisa ikut ujian dan dinyatakan tidak keterima di ISI. Benar-benar gila aku waktu itu. Apakah itu juga karena doa org tuaku, kebetulan mereka sebenarnya tidak ingin aku masuk ISI tapi pada akhirnya aku ikut ujian, dan dinyatakan diterima (bahkan pengumumnannya masih aku simpan).

Ketika pengumuman keluar, aku tidak antusias sama sekali. Sekali lagi aku merasakan sedih luar biasa. Sejak saat ujian itu hingga pada hari pengumuman aku terus berfikir untuk menggambil atau tidak. Dan akhirnya aku memutuskan untuk tidak mengambil pilihan yang aku buat sendiri. Masalah dan kebingungan kemudian tak lantas jauh-jauh. Ujian di ISI termasuk ujian paling akhir diantara kampus-kampus yang lain. UGM yang tidak pernah aku fikirkan sebelumnya buat masuk ke sana udah lewat.waktu itu tidak benar-benar tertarik untuk masuk sana. Walapun aku ikut ujian masuk (UM UGM –pen) juga tapi buat aku itu hanya iseng.pilihan terakhir hanya UII atau aku tdk kuliah sama sekali tahun itu, pilihan untuk tidak kuliah sangat ‘diharamkan’ oleh bapak dengan berat hati aku masuk UII.

Di UII aku memilih jurusan favorit keduaku, Arsitektur. Kuliahku di sana tidak berlangsung lama, hanya 3 minggu. Aku suka dengan jurusannya tapi tidak dengan kampusnya. Itulah kenapa aku merasa tidak nyaman dan hanya kuliah dalam waktu yang singkat pula. Awal mula aku berhenti dari UII karena aku sempat jatuh, itu pas ngambil tugas maketku. Aku jatuh dan sempat amnesia. Nah, mulai saat itulah aku berniat mengambil kesempatan untuk ‘keluar’ pelan-pelan dari UII setelah kejadian itu aku selalu bolos kuliah. Kalo ditanya masku atau siapapun ketika mau pergi, pasti aku jawab mau kuliah. Selama itu aku tidak pernah sampe jakal KM.14 dan klo ibu tanya misal tentang tugas, aku selalu bilang “tugas apa bu?” aku selalu menjawab “tidak ada tugas”. Saat itulah orang tuaku mulai curiga dan pada akhirnya orang tuaku aku udah tidak kuliah, betapa kaget mereka. Mereka kecewa dan sedih bgt (trenyuh pil nek inget yg ini).

Alhamdulillah aku beruntung aku punya orang tua yang pengertian, walapun anaknya ‘keparat’. Akhirnya mereka ngerti dan memintaku supaya memperbaiki diri dan jujur bapakku sempat trauma kalo aku gagal lagi dalam kuliahku kelak. Karena bagi bapakku dan mungkin orang tua lainnya, pendidikan dan agama adalah nomer satu. Sejak itu akhirnya aku sadar kalau aku tidak bisa seperti dulu lagi. Aku harus punya tujuan jelas dan tujuanku adalah kuliah. Akhirnya aku ikut Bimbingan Belajar dan memutuskan untuk ikut Ujian Masuk di UGM.

Cerita menarik ini tentang temenku si Coco. Aku dah cerita di atas beda sm aku, dia benar-benar antusias pas keterima jurusan lukis. (catatan: jurusan lukis salah satu jurusan paling oke di ISI, tesnya pun susah, bisa dibayangkan bagamana oke anak ini. Gambar buatannya realis. Karya gambarnya benar-benar keren. Tapi taukah kamu bahwa setelah sekian lama (aku lupa semesternya) akhirnya dia memutuskan keluar juga dari ISI dan aku kaget ketika dia memutuskan ingin ikut tes jadi tentara. Pada akhirnya dia gagal tes jadi tentara dan memutuskan masuk AA YKPN. Dia udah lulus dan sekarang kerja di Migas kayaknya. Aku benar-benar kaget pas dia cerita sekaligus ngakak, Coco dan Aku tidak ada yang menyangka kemana kami kelak akan berlabuh hingga pada akhirnya menemukan “pelabuhan” lain yang jauh berbeda dari “pelabuhan” sebelumnya.

Ada benang merah antara pengalamanku sama Coco tapi secara nalar menurutku ini adalah takdir pil.

Apa hikmah dari kegagalan dari dua jurusan tersebut?

Seperti yang ibuku selalu bilang, “semua sudah ada jalannya.tinggal gmn, kemana, dan seperti apa kita mau menahkodainya”. Yang pasti dari pangalaman aku dan coco adalah kami sama-sama jujur dng kondisi kami sendiri walaupun untuk beberapa hal cukup mengagetkan dan menyakitkan org lain. Tapi sebagai balasannya, kami sudah mempersiapkan dan punya tujuan lain yang jelas. Fenomena dan hikmah lain adalah belajar mungkin bisa didapat di mana saja. Maksudku, misalnya aku tak perlu sekolah jurusan DKV (Desain Komunikasi Visual) biar bisa mendesain. Sekarang semua orang bisa melakukannya mungkin belajar dari teman ataupun otodidak (teknologi berperan besar) ataupun aku juga tak perlu sekolah media rekam, untuk  bisa bikin, ngedit film, kita bisa belajar otodidak dgn bantuan teknologi.

Apa sih yang kamu fikir ketika diterima sebagai mahasiswa jurusan Sejarah? Apa ini bukan merupakan pilihan utamamu?

Yg jelas aku seneng pil.satu tujuanku tercapai yaitu kuliah lagi.sejarah memang pilhan terakhirku, waktu itu aku berharap diterima di jurusan Komunikasi buat aku keterima sejarah pun tidak masalah yang terpenting waktu itu adalah aku bisa kuliah lagi dan berharap bisa menebus kesalahanku kepada orang tua.

Perjalanan semester demi semester pasti membentuk pola berpikir. kapan sih kamu mulai menyadari bahwa pola berfikir itu ada pada dirimu?

Sejak seminarlah yang mengajarkan aku bagaimana benar-benar berfikir tidak hanya secara akademis tetapi kedekatan ‘emosional’ antara aku dan studi yg aku jalani dan keseriusanku untuk mulai memikirkan jalan masa depan. Lanjut hingga pada akhirnya aku mengambil skripsi.

Sekarang ke skripsi, bisa ceritain skripsimu tentang apa sih? apakah berniat untuk mencetaknya menjadi buku? sekarang ada print on demand yang bisa mencetak buku satuan. Lumayankan buat kenang-kenangan untuk  perpustakaan, kawan atau calon mertua.

Mumpung masih anget abis didadar, aku akan cerita sedikit tentang skripsiku yang membahas tentang perkembangan kreativitas desain iklan rokok. Di situ aku meneliti bentuk, jenis, perubahan/transformasi kreativitas desain iklan rokok dari tahun 30 sampai 70-an. Ya, kira-kira hampir setengah abad. Selain itu aku juga mengkaji unsur-unsur dalam iklan rokok yang dipengaruhi oleh rezim politik dan modernisasi.secara garis besar seperti itu. oya print on demand itu apa to pil? Blm kepikiran untuk mencetak, tapi kalau ada kesempatan kenapa tidak? aku akan sangat senang. hihi berasa artis. Karena jujur ak pingin berbagi ilmu atau info yg aku dapat dari penelitian skripsiku, begitu pula sebaliknya, aku ingin banyak belajar dari orang lain.

Setelah lulus mau kemana nih? Jobfair? KUA? kira-kira rencana ke depanmu seperti apa?

Masih abu-abu, banyak rekomendasi yang mungkin bisa dicoba, di bidang periklanan, jurnalistik, penerbitan, perpustakaan, informatika (operator seluler), perusahaan rokok, atau mungkin PNS hehe..tapi satu cita-citaku adalah aku punya toko coklat kelak.
Cerita dikit, coklat menjadi salah satu penghibur di masa-masa aku menjadi pengangguran setelah keluar kuliah dari UII. aku jualan coklat kecil-kecilan berbekal resep dari koran masak dan alhamdulillah laku. Ya, mungkin setelah ini aku akan mengambil kelas cooking chocolate di Jakarta dan kelak bisa punya toko coklat. Doakan kesampaian hehe….

Kamu berfikir akan menggunakan disiplin ilmu sejarah dalam dunia kerja?

Sempat berfikir seperti itu, khususnya di Perpusnas karena semua itu tidak lepas dari pengaruh penelitianku yang mengharuskan mencari sumber ke sana. Senang sekali melihat koleksi langka surat kabar tapi sekali lagi, aku belum punya gambaran hingga saat ini mau kemana, yang pasti tujuanku pertama adalah jadi wanita mandiri, kerja,cari uang, cari pengalaman, ilmu, dan tak lupa membantu orang tuaku, hingga saatnya nanti aku pnya usaha sendiri yaitu toko coklat ketika aku sudah nikah kelak.semoga semua tercapai dan berjalan sesuai rencana. Amin.

Dalam obrolan yang lalu tidak pernah menyinggung masalah S2, apakah ada pikiran untuk lanjut ke S2?

Yup, benar.sbenarnya tidak atau mungkin belum kepikiran untuk mlanjutkan kejenjang S2. Apalagi jujur orientasiku skrg adalah bekerja untuk mencari uang. Tapi, jika ada kesempatan kelak untuk belajar lagi, Aku mau dan ini sedikit terbesit dalam benakku ketika beliau (Prof. Dr. Bambang Purwanto) mengatakan klo salah satu kajian dalam tulisan skripsi jika dikaji lebih dalam dan spesifik, akan sangat menarik. Dan beliau mengisyaratkan padaku untuk menulis lagi. Mungkin suatu saat nanti.

Persimpangan, sepertinya setelah ini semua teman-teman tercerai-berai untuk menjelajahi kehidupan yang nyata. Yap, komentar kamu?

Sedih pastinya, lima tahun bersama-sama bukanlah waktu yang singkat.tapi kembali lagi seperti hukum alam,pasti semua itu akan terjadi. Insya Allah, aku sudah siap dengan semua itu. Beruntunglah kita hidup di era socmed di mana komunikasi dapat terjalin dengan sangat mudah dan murah yang aku harapkan komunikasi dan silaturahmi kita semua tetap terjaga, tidak terputus, dan berharap kita semua, sejarah 2007, bisa sukses dengan cerita masing-masing di dalamnya. Amin.

bonus: foto yang diabadikan ketika awal kuliah tahun 2007.


Teks: Dimaz Maulana 
Foto: diambil dari akun FB, Yuhana Setianigrum

Jumat, 09 Desember 2011

Screening Film “Walk Together, Rock Together”

kemarin, hari ini dan untuk selamanya

Film ini bercerita tentang perjalanan band asal Jakarta, Superglad. Superglad tercipta karena kejenuhan Bulux dengan band sebelumnya, Waiting Room. Tindakan Bulux juga menyeret ketiga personil Waiting Room, Gio, Akbar dan Dadi yang kemudian membentuk Superglad. Waiting Room tidak bisa dipandang sebelah mata mereka berhasil merilis dua album, Propaganda (2000) dan Musik (2002).

Perkenalan saya dengan Superglad ketika salah satu band SMA teman saya mengcover salah satu lagu mereka, Slam Dance. Lagu ini cukup asik untuk moshing kemudian saya mendengarkan seluruh materi lagu Superglad (Ketika Hati Bicara) yang merupakan album kedua mereka. Setelah itu saya mulai jatuh hati dengan Superglad. Saat itu Superglad sesekali main di Televisi dan videoklipnya sering diputar di MTV.

Dalam film itu diceritakan bahwa para personil Superglad sangat tidak dekat dengan fans-nya. Mereka tidak memberikan jarak antara fans dengan si artis. Tyo dan Gomeng keduanya adalah teman SMA saya, mereka pernah bercerita kepada saya ketika menonton Superglad di Klaten dan Salatiga. Mereka menghampiri Superglad sampai ke hotel sama seperti apa yang digambarkan dalam film dokumenter. Saya sendiri pernah bertemu langsung ketemu dengan Bulux ketika mampir di Trax Fm, Jakarta. Bulux merupakan penyiar yang mengasuh acara “Kompak Kampus” bareng Jimi The Upstairs. Bulux sempat menawarkan kopi kepada saya. Saya menimpalinya dengan “Kapan nih Superglad main ke Jogja?”. Sudah lama sekali Superglad tidak bermain di Jogja, kebanyakan mereka main di seputaran Jawa Tengah.

Apakah kita tetap bisa muda? Film ini memberikan suatu pertanyaan tersirat didalamnya. Muda dalam artian kita tetap bisa main dengan teman sepermain sewaktu masih bujang? Setelah menikah praktis kita mengurus keluarga dan anak. Semacam cerminan untuk saya sendiri. Ya, akhirnya masa depan itu masih kabur, kita tidak tahu apa yang ada di depan dan yang penting MAJU TERUS.

Minggu, 30 Oktober 2011

Goa Kali Suci : Keindahan di Balik Gersangnya Gunung Kidul

“Piknik ki kudu dadakan, nek rencana terus kapan le mangkat?” – Lubex

Sekitar sebulan yang lalu saya bersama teman-teman piknik ke Goa Kali Suci. Goa ini terletak di daerah Semanu Gunung Kidul yang jaraknya sekitar 1,5 jam dari Jogja. Kami berangkat hanya beranggotakan 6 orang dengan mengendarai sepeda motor. Meski hampir batal karena Jogja sempat turun hujan dan mendung. Namun, kami memutuskan untuk berangkat setelah menelepon petugas obyek wisata Goa Kali Suci yang menyatakan cuaca di Kali Suci cerah.

Sesampai disana kami masih harus menunggu sekitar setengah jam karena Obwis cukup ramai pada hari itu. Sebelum turun ke Goa, kami menyantap nasi bungkus yang dibeli ketika akan berangkat. Petugas memanggil kami, kami pun bersiap-siap menuju Goa, lengkap dengan perlengkapan seperti helm, pelampung dan ban. Jarak dari pos ke arah goa sekitar 500 meter ditempuh dengan jalan kaki.

Sebuah goa telah menganga seraya menyambut kami. Petugas memandu kami untuk turun ke sungai, satu per satu dari kami sudah diatas ban. Arus sungai cukup tenang tidak begitu deras. Setelah melewati goa, kami berhenti sebentar untuk foto-foto. Kemudian, kami melanjutkan perjalanan lagi setelah melewati goa perjalanan selesai. Sebuah tebing yang cukup tinggi telah menunggu kami, dibantu dengan sebuah tambang kami menaiki tebing sambil membawa ban.

Tips:

1. Pastikan perut kamu terisi atau membawa nasi bungkus sebelum tracking.

2. Pakailah baju ketika turun ke Goa karena ketika sore udara akan terasa dingin.

3. Pakailah sandal karena jalan tracking cukup terjal.

4. Sebaiknya berangkat ke Obwis sekitar pukul 1 siang dan jangan datang terlalu sore.

Sabtu, 23 Juli 2011

Sekilas Tentang Permainan Sewaktu Kecil

“Ayo dolanan delikan dim!”

Delikan dalam bahasa Indonesia adalah petak umpet. Permainan ini merupakan permainan favorit saya dan beberapa teman sekampung saya. Saya dibesarkan di Desa Banguntapan, sebuah desa yang berada di pinggiran Kota Yogyakarta. Desa ini bisa dikatakan jauh untuk ke Ibukota Kabupaten Bantul namun cukup dekat untuk ke pusat kota Yogyakarta.

Waktu saya kecil, jalur ringroad sedang dibangun. Saya masih ingat, perempatan jalan Wonosari masih berwujud hutan dan jalannya begitu bagus. Disana juga masih terdapat belik atau mata air yang sering dimanfaatkan oleh warga sekitar untuk keperluan MCK. Selain itu tidak jauh dari belik terdapat juga belik serupa namun belik ini sudah dibuat seperti bangunan kamar mandi.

Kembali ke permainan favorit yang sering kami mainkan sewaktu kecil. Desa kami merupakan desa pecahan yang dipisahkan oleh jalan raya. Sehingga kami jarang berbaur dengan anak kampung sebelah dengan alasan harus menyebrang jalan raya. Teman sepermainan saya hanya terdiri dari tujuh anak-anak saja. Tapi itu tidak menyurutkan kami untuk bermain. Tercatat selain delikan, kami sering memainkan jamuran, engklek, jek-jekan, sepiring dua piring (saya lupa nama resmi permainan ini), umbul, tekpo, long bumbung, lonthok, layangan, gobag sodor, semarangan, sepak sekong, boy-boyan, masak-masakan, kotak-kotakan, yoyo, monopoli.

Untuk menyegarkan ingatan tentang jenis-jenis permainan yang saya sebutkan diatas, saya jelaskan secara singkat;

Jamuran : sebuah permainan yang bisa dimainkan dua orang atau lebih yang dimulai dengan sebuah nyanyian pembuka dan dilanjutkan dengan sub permainan, seperti jamur meja, jamur manuk dan lain sebagainya (jamur manuk berarti berubah menjadi burung)

Engklek : permainan yang membutuhkan ketangkasan dalam melompati setiap kotak-kotak dengan satu kaki. Permainan ini semakin banyak yang bermain semakin seru.

Jek-jekan : dibutuhkan dua buah tempat sebagai tempat untuk hinggap yang ditasbihkan sebagai markas. Setiap kelompok diharuskan menguasai markas milik lawan dengan cara memegangnya.

Serpiring dua piring : sebetulnya nama tersebut aalah opening dari sebuah lagu yang selalu dinyanyikan sebelum memainkan permainan ini. Permainan memiliki dasar lari dan setiap kali memegang lawan harus menyebutkan nama yang sudah ditetapkan sebelumnya.

Umbul dan tekpo : permainan ini dimainkan dengan kartu-kartu bergambar. Umbul dimainkan dengan cara diumbul untuk menentukan siapa pemenangnya. Sedang Tekpo dimainkan dengan cara menumpuk kartu dengan sama tinggi dan dibuka untuk melihat angka yang ada di kartu. Angka tertinggi adalah pemenangnya.

Long Bumbung : permainan ini wajib dimainkan ketika puasa. Bambu sebagai bahan dasar dan minyak sebagai bahan bakarnya menjadi teman menanti buka puasa.

Lonthok : berbahan dasar dengan bamboo juga seperti long bumbung tetapi bambu yang digunakan lebih kecil sekitar 4cm saja. Selain itu diperlukan Koran sebagai pelurunya.

Layangan : permainan ini sangat pas dimainkan ketika musim kemarau, ketika banyak angin dan dimainkan di sawah yang telah dipanen.

Gobag sodor : permainan ini dimainkan di tempat yang luas. Diperlukan kecepatan berlari dan kelihaian dalam mengelabui musuh.

Sepak sekong : permainan ini hampir sama seperti petak umpet tetapi ada tambahan beberapa ranting yang harus disusun seperti api unggun. Penjaga api unggung harus mencari musuh dan harus tetap menjaga ranting tersebut agar tetap tegak.

Boy-boyan : serupa dengan sepak sekong tapi medianya adalah bola kasti dan pecahan genting yang disusun tumpuk-tumpuk keatas.

Masak-masakan : meski tidak menggunakan bahan-bahan yang bisa dimakan, kami menggunakan api betulan. Dengan kaleng bekas yang diisi air lalu ditunggu sampai matang. Seperti itulah permainannya.

Kotak-kotakan : permainan ini menyusun balok-balok kayu yang bisa disusun menjadi rumah, mobil dan lain sebagainya tergantung imajinasi pembuatnya.

Yoyo: permainan ini sangat seru ketika dimainkan dengan cara saling menghancurkan yoyo.

Monopoli: meski hanya bisa dimainkan empat orang aja tetap saja permainan ini sering dimainkan terutama ketika puasa.

Mungkin kamu pernah memainkan permainan yang saya sebutkan. Beberapa tempat memiliki nama dan peraturan yang berbeda. Selain itu, Saya juga memainkan beberapa permainan modern seperti Nintendo, gameboy dan lain sebagainya. Namun saya masih memainkan beberapa permainan tradisional. Semoga permainan-permainan tradisional itu masih terus bertahan.

Rabu, 20 Juli 2011

Pembukaan LIR Space

Dito Yuwono si empu yang punya acara

Sebuah ruangan kecil dengan luas 3 x 3 meter disulap menjadi mini galeri. Ruangan itu berwarna putih dan diisi oleh karya foto. Ada tiga buah pigura yang cukup besar dan 18 foto berukuran A3 yang disusun dengan rapi. Dito Yuwono, seorang fotografer yang mengisi galeri mini tersebut. “Have We Met” adalah tema pameran yang diangkatnya. Sebelumnya beberapa bulan lalu Dito mempresentasikan karya “Have We Met” di Mes 56. Dan Inilah pembuktian dari beberapa pertanyaan yang mengarah kepadanya pada saat presentasi lalu.

terkesima dengan pengantar yang dibawakan oleh Dito, banyak bahasa lawas yang keluar


Bertempat di LIR Shop dan menjadi tonggak dibukanya LIR Space yang dibuka untuk orang-orang yang ingin mempresentasikan karya seni. Ruangnya memang sempit hanya seluas kamar kostmu. Tapi, percayalah ruang ini jauh lebih dalam dari apapun itu dan ketika diisi karya pastikan kamu tenggelam didalamnya.

nampang di depan karya Dito Yuwono

Ingin tahu lebih lengkap tentang “Have We Met” silakan mampir www.ditoyuwono.com


Penjaga Toko dan Esensi Sebuah Kemenangan

Penjaga toko itu menari-menari sambil membawa sapu dan kemoceng. Tawanya lepas sambil melihat saya yang sedang menunggu menyeberang padatnya jalan Gejayan.

Sepulang dari makan di daerah Deresan saya memutuskan untuk pulang. Saya memang biasa lewat gang Alamanda jika dari daerah Deresan. Kali ini lain sekali, saya melihat para pegawai toko tas yang ada tepat di depan potongan jalan Gejayan, sedang heboh menari-nari dan berjoget. Mata saya pun tidak bisa terlepas dari pemandangan tersebut. Para pegawai yang sedang berjoget pun juga pasti tahu kalau menjadi pusat perhatian. Tandanya mata mereka mengarah ke jalan dan lebih tepatnya memandang ke arah saya.

Saya berpikir sejenak, oia, sekarang sudah jam 9 malam, tandanya toko akan tutup. Mungkin mereka menari-nari untuk merayakan sebuah kemenangan hari ini. Kemenangan dari selesaianya sebuah kewajiban kerja yang setiap hari mereka lakukan. Datang jam 8 atau jam 9 pagi dan bekerja sampai jam 9 atau 10 malam. Hal itu dilakukan setiap hari, mungkin setiap bulan hanya diberi jatah libur dua sampai tiga hari dengan catatan tidak mendapatkan gaji.

Kembali ke esensi dari sebuah kemenangan. Mengapa kita harus merayakan sebuah kemenangan? rasanya jawabanya adalah kita butuh suatu aktifitas yang bisa memuaskan diri kita atas sebuah pencapaian yang telah tercapai. Mungkin sama kasusnya dengan teman-teman saya yang telah menyelesaikan studi mereka di jenjang perkuliahan dengan mentraktir teman-teman seangkatannya.

Pikiran saya kembali pada sebuah esensi kemenangan. Dalam perjalanan pulang saya sempat memikirkan esensi kemenangan. Laju motor saya melewati daerah Demangan Baru. Sebentar lagi bulan Puasa akan tiba. Akankah saya mendapatkan esensi dari sebuah kemenangan di bulan penuh berkah?

Saya selalu rajin berpuasa setiap kali Ramadhan. Ketika teman-teman saya ‘cabut’ dari puasa, saya masih bertahan sampai suara adzan Maghrib berkumandang. Godaan seperti teman saya yang sedang makan disamping saya bukan merupakan godaan yang berarti.

Tapi, dari tahun ketahun saya belum bisa mendapatkan sebuah kemenangan yang selama ini yang saya cari. Kemenangan seperti tawa pegawai toko tas itu. Luwesnya senyuman yang tercipta. Ketika sholat saya penuh dengan lubang dan panggilan sholat Jum’at terkadang di/terlupakan. Namun saya masih menjalankan perintah -Nya dan tetap berusaha menjauhi semua larangan –Nya.

Semoga tahun ini ada sebuah perubahan. Bukankah Ramadhan berarti sebuah lembaran baru yang harus meningkat setiap tahunnya. Kata-kata itu saya dapat ketika ceramah sholat Jum’at sewaktu KKN. Tapi, ah saya terlalu banyak kata ‘tapi’, selalu mempertanyakan kembali, sebenarnya itu tidak baik. Lakukanlah yang terbaik itulah kuncinya.

#ditulis sembari mendengarkan tembang “Into The Light” milik Adhitia Sofyan dengan kondisi sehabis mandi

Minggu, 17 Juli 2011

In The Woods: Sensasi Piknik Bersama Risky Summerbee and The Honeythief

Risky Sasono


Apa jadinya jika sebuah band bermain diantara pepohonan dengan suasana piknik? Konsep pertunjukan model semacam ini sangatlah jarang kita temui. Tapi berkat Lir Shop dan Risky Summerbee and The Honeythief (RSTH) bayang-bayang konsep itu terwujud. Acara yang bertajuk ‘In The Woods’ digelar di rumah Mbak Mira (owner Lir Shop) yang berada di daerah Kaliurang.

Meski jarak yang ditempuh cukup jauh sekitar 25km dari pusat kota tapi tidak menjadi penghalang untuk mereka yang datang ke acara ini. Saya sendiri datang bersama teman-teman dan sempat kesasar karena tidak menemukan venue. Ternyata yang kesasar tidak hanya kami saja tetapi ada beberapa orang yang mengalami hal serupa.

Sebuah gerbang dari kayu menjadi pintu yang menghubungkan kearah hutan. Dari kejauhan tampak beberapa orang sedang duduk-duduk di tikar yang sudah disediakan oleh panitia. Tampak juga beberapa stand yang berupa stand makanan yang diisi oleh Mooi yang menyediakan pasta, buah segar, gingerbeer dan masih banyak yang lain. Menengok ke stand Summer Spring yang menjual pakaian dan terakhir stand mainan. Stand mainan disana saya menemukan CD, kaos, hingga permainan lawas seperti balon karet yang dijual dengan harga 1000 per lima biji.

Risky Sasono (vokalis RSTH) sedang mempersiapkan gitarnya dan tidak beberapa lama RSTH memainkan lagu dengan konsep akustikan. Cuaca yang cerah ditambah dengan angin yang semilir RSTH memulai lagu-lagunya. Saya pikir RSTH hanya bermain secara akustik saja. Sekitar 20 menit perform mereka selesai. “Oke, sebentar lagi kami akan memainkan fullset di bawah sana” tutur Risky Sasono.

aneka buah segar yang pastinya siap menggoyang lidah anda

RSTH akhirnya siap memainkan secara fullset. Seluruh lagu dalam album “The Place I Wanna Go” dihajar oleh RSTH. Pada lagu “Fireflies” semua penonton ikut bernyanyi dan bertepuk tangan. Turut tampil juga Asa Rahmana dari Belkastrelka yang ikut mengisi sebagai guest vocal.

Ah, rasanya tulisan saya tidaklah bagus. Terlalu susah untuk menulis acara In The woods. Biarkan badanmu rilek, menyiapkan telinga dan bersiap mendengar RSTH membawakan lagu-lagunya. Ditemani sekantong stroberi segar sambil merasakan udara segar Kaliurang.

Foto: Komang SA dan Dimaz Maulana

Jumat, 15 Juli 2011

Sepotong Kenangan Bersama Kawan Yang Telah Berpulang

“Tau Nanang? Tmn smp ank kls c. td meninggal dunia”.

Itu merupakan sms yang dikirim oleh Imam, teman saya. Sebuah berita duka. Kemudian saya mengingat sosok Nanang. Maklum, teman SMP jadi agak sedikit lupa. Badannya tinggi dan saya piker dia lebih tua dua tahun dari saya. Dia juga pernah tinggal kelas sepertinya. Saya jadi teringat kenangan tentang Alm. Nanang. Seorang guru pernah menegurnya karena dia mengambari celananya dengan tipe-x. Parahnya gambar itu dibuat tepat pada depan celana, tepat kain depan retsleting dengan gambar tanda ‘?’.

“Urip iku mung mampir ngombe” sebuah pepatah Jawa yang telah lama saya dengar. Beberapa teman saya juga ‘pergi’. Saya coba meningat-ingat kembali tentang mereka.

Hasim, sebenarnya dia teman kakak saya, tapi karena saya sering main ke kosnya kami jadi berteman. Hasim adalah sosok yang humoris dan sering menghadirkan celetukan-celetukan yang asik. “Tombok sithik wae bos” salah satu andalannya. Saya juga pernah merekam celetukannya untuk ringtone handphoe. Tapi sepertinya tertinggal di komputernya. “Pil kowe reti ra? Hasim meninggal.” Kata Hanung di kantin SMA. Saya langsung bertanya kepada kakak saya dan benar Hasim meninggal dunia. Dia menderita penyakit dalam yang kronis dan tidak pernah bercerita kepada teman-temannya.

*****

Oia seorang teman SMP saya dikabarkan mengalami kecelakaan di jalan Kaliurang. Ari namanya, saya cukup kenal dengannya. Meski berbeda kelas saya sering ngobrol dengannya entah dikantin atau sewaktu pulang sekolah. Kebetulan depan rumah saya merupakan tempat nongkrong anak-anak SMP. Naas dia mengalami kecelakaan yang merenggut nyawanya.

*****

Dia adalah adik kelas SMA. Badannya gemuk dan sering bersepeda sewaktu SMA. Dia sering bersepeda jauh sebelum tren fixie merebak dikalangan anak muda. Saya sering menjumpainya di Mushola SMA saya. Orangnya taat beribadah. Dia sama seperti teman-temannya bergaul dan bermain bersama. Tidak ada sesuatu hal yang mengisyaratkan bahwa dia sakit. Tapi setelah saya lulus SMA saya jarang bertemu dengannya. Dan sebuah berita duka dengannya sampai ketelinga saya. Dia meninggal sebelum lulus SMA.

*****

Fendy Raka. Saya mengenalnya sejak saya bekerja di 49Corner. Sosoknya sumeh namun pendiam. Tapi sesekali saya mengajaknya ngobrol sembari bermain playstation milik kantor. Namun tidak berapa lama dia keluar dari kantor dengan alasan ingin membuka usaha. Akhirnya dia membuka sebuah lapak sup buah di Magelang. Tidak berapa lama yang mendengarnya dia sudah tidak melanjutkan usahanya lagi. Namun dia sering ke Jogja dan masih sering mampir ke kantor. “Njaluk dongane wae yo pil” sepotong balasan sms dari mas Andy membalas sms dari saya. Saya tidak bisa hadir waktu pemakamannya. Waktu itu saya sedang KKN dan sedang ada program. Ah, senyumanmu masih terngiang dibenakku. Pernah sewaktu malam saya iseng membuka akun facebooknya dan saya membaca komen-komen yang masuk. “Hari ini aku datang ke makammu mas.” tulis seorang perempuan.

Selamat jalan teman. Entah sedang apa kau disana yang jelas saya pasti akan ke alam mu juga. Sekali lagi hidup hanya sementara dan pasti kita akan kembali kepada-Nya.

Kamis, 07 Juli 2011

Projek Mixtape 'JogJakarta'

Lagu apa yang pernah menjadi ‘soundtrack’ tentang kota Jogja atau Jakarta?

Saya yakin kamu pasti memilikinya, coba diingat-ingat. Dimana romatika ada di dalamnya, menyelimuti keadaanmu. Suasana saat itu mungkin bisa senang, sedih, gundah atau bahkan bingung tak karuan. Disini saya mengajak kamu untuk berkontibusi dalam projek mixtape saya.

Mixtape? Mixtape adalah kumpulan lagu yang dikemas dalam kaset tape. Karena sekarang kaset tape sudah minim penggunannya jadi kebanyakan mixtape dikemas dalam bentuk CD.

Mixtape saya berkisah tentang kumpulan cerita-cerita yang pernah terjadi di Jogja atau Jakarta. Jadi saya mengharapkan kamu mengirimkan cerita kamu yang terwakili oleh sebuah ‘soundtrack’ lagu. Lagunya bebas bisa dari genre apapun bisa pop, rock, metal, dangdut, atau apalah bebas. Band Indonesia ataupun mancanegara tidak menjadi masalah. Boleh.

Sebagai gambaran saya beri contoh cerita saya;

Andien – Gemintang

Sekitar tahun 2009, saya pergi dengan teman saya ke pantai Samas. Hari itu hari rabu saya masih ingat betul. Sesampai di pantai kondisi sudah mulai malam, kami ketinggalan sunset. Akhirnya kami duduk-duduk di pinggir pantai. Saya sambil memandang bintang-bintang yang mulai muncul satu per satu. Kami mengobrol seperti biasa. Kebetulan handphone saya ada pemutar musiknya, saya memilih lagu-lagu dan berhenti pada Andien. Lagu ‘Gemintang’ mulai terdengar kemudian saya menyanyi lirih sambil melihat bintang-bintang. Sekitar pukul delapan malam kami begegas pulang. Diperjalanan saya menanyakan lagi tentang perasaan saya kepadanya. Tapi ternyata, tidak bisa menerima saya. Jelas saya cukup kecewa dibuatnya. Dan, lagu Andien mengingatkan saya tentang cerita pada waktu itu.

Seperti itu cerita saya. Kalau cerita kamu?

Jika kamu berani bercerita? Silakan kirim cerita kamu serta lagu kepada saya.

Hubungi: (0274) 9151901

Twitter: @dimazmaulanaa

Selasa, 28 Juni 2011

"Get Lost!" Pameran Residensi oleh Dainam Kim

salah satu karya Dainam Kim

Dainam Kim, seorang fotografer asal Korea Selatan menggelar pameran residensi yang bertajuk “Get Lose!”. Kim dalam pameran “Get Lose!” mempresentasikan gardu. Gardu adalah sebuah tempat yang berfungsi untuk tempat beristirahat ketika ronda atau jaga malam. Dalam pamerannya Kim merespon bentuk-bentuk gardu yang ada di Yogyakarta. Kebanyakan foto-foto yang di hasilkan oleh Kim terkesan hening. Hening di sini terlihat dari beberapa foto yang hanya berupa bentuk gardu semata, tidak ada interaksi orang-orang yang ada disana. Tapi, Kim juga merespon sisi semiotik yang ada pada gardu, misalnya adanya gardu yang dilengkapi dengan televisi atau radio. Kemudian logo-logo partai politik dan iklan-iklan komersial. Awalnya memang gardu hanya berupa bangunan sederhana. Sedikit meleset dari pengantar yang ditulis oleh Antariksa, yang membahas gardu adalah tempat berkumpul dan mengalami perubahan dalam setiap pemerintahan. Mulai dari jaman kolonial hingga era reformasi, fungsi gardu mengalami perubahan.

Gardu merupakan ruang yang menjadi tempat bertukarnya informasi. Obrolan apa saja bisa terjadi disini. Saya jadi teringat, dibeberapa daerah gardu merupakan tempat berkumpul para pemuda setiap sore sampai menjelang malam. Mereka mulai berkumpul biasanya sekitar pukul 4 sore dengan dandanan necis dengan motor yang sudah kinclong. Entah, apakah fungsi gardu masih berupa ruang berkumpul atau sudah tenggelam oleh kesibukan orang-orang kampung? Lihat sekitar anda, bagaimana kondisi gardu tersebut.

Bila berminat silakan datang pada acara Artist Talk;

Kamis, 30 Juni 2011 | bertempat di Mes 56


* foto oleh Dainam Kim dari www.mes56.com