Tampilkan postingan dengan label curahan hati. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label curahan hati. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 28 Desember 2013

Kita adalah Benalu

Klub ibarat pohon yang tumbuh besar. Akarnya sudah menancap di tanah sejak klub tersebut dilahirkan. Jika klub itu lahir di era awal Perserikatan bisa dibayangkan akar tersebut sudah menjalar kemana-mana. Klub yang sudah malang melintang di segala kompetisi seyogyanya semakin maju. Mundur atau yang paling parah adalah bubar merupakan mimpi buruk yang tiada akhir. Bubar berarti tinggal nama dan hanya bisa dipandang di buku-buku atau tulisan semata.

Klub tidak bisa lepas dari orang-orang yang berada di sekitarnya. Orang-orang ini tidak lain adalah manajemen, suporter dan pembuat merchandise. Mereka-mereka terkadang merugikan klub namun tidak jarang mereka dirugikan oleh klub.

Manajemen
Orang-orang yang bernyali/tidak memiliki pilihan lain untuk mengurusi klub. Mereka ini adalah penggerak roda-roda klub dalam mengarungi kompetisi. Mulai dari menyiapkan tim beserta pelengkapnya. Selain itu memikirkan cara membayar tunggakan gaji pemain, sewa stadion, catering dan masih banyak lagi. Bahkan tak jarang benda-benda berharga yang mereka miliki terpaksa harus di “sekolahkan”. Namun disatu sisi mereka benalu bagi klub, bisa dilihat siapa saja yang bekerja dan tidak di jajaran manajemen. Makan gaji buta.

Suporter
Pewaris abadi klub adalah suporter. Loyalitasnya kepada klub itu yang diharapkan dari mereka. Kemana pun klub tersebut bermain mereka secara swadaya hadir di stadion lawan. Tidak semua kaya namun tidak semua miskin yang jelas mereka bekerja keras sekuat tenaga mendukung klubnya. Mental masuk stadion tanpa tiket adalah tindakan yang merugikan klub. Efek fanatisme terkadang menjadi blunder. Tak jarang klub didenda akibat ulah suporter yang brutal. Klub harus menanggung beban. Uang berkurang dan pindah kandang.

Merchandise Bajakan
Kreatif mereka mengolah bahan-bahan mentah disulap menjadi merchandise klub. Kegiatan ini sejatinya illegal tapi sudah menjadi budaya. Budaya membajak memang menjadi kegiatan yang biasa. Selain itu membeli barang bajakan seolah sesuatu yang wajar. Alasan ekonomi dan harga yang ekonomis me-labelinya. Mereka-mereka juga merugikan klub karena menjual produk secara illegal. Namun disisi lain merchandise adalah bukti eksistensi klub bagi para penggemarnya.

Kita adalah benalu. Saya adalah benalu. Klub menjadi korban yang dirugikan oleh orang-orang yang menyusu. Sudah saatnya berbenah, Apakah kamu ingin berbenah juga? Saya pun ingin begitu, berjalan di jalan yang legal dan benar.

Dimaz Maulana,
Pengelola akun pengarsipan @BAWAHSKOR

Jumat, 22 Maret 2013

Bilik Curhat Siapa Pernah Coba?


Siapa yang suka curhat? semua orang pasti butuh menyalurkan uneg-uneg atau permasalahannya kepada orang lain yang bertindak sebagai pendengear setia. Ya, interaksi ini memang normal adanya. Namun teknologi memudahkan kita untuk curhat atau bercerita dua arah secara langsung tanpa dibatasi oleh jarak. Buktinya penemuan telepon oleh Alexander Graham Bell.

Tinggalkan Alexander, pernah ada suatu masa ketika banyak iklan di media massa yang menawarkan bilik-bilik curhat dua arah. Kemarin saya membaca koran Kedaulatan Rakyat terbitan tahun 2001. Cukup banyak iklan-iklan bergambar sensual yang menawarkan fasilitas bilik-bilik curhat. Nomor-nomor hotline terpampang jelas memudahkan kita untuk menghubunginya. Saya pribadi saat itu belum pernah mencoba selain takut biaya pulsa yang dikenakan setiap menitnya berkisar Rp. 3.250/menit. Harga yang mahal dan setara biaya interlokal ke Jakarta atau Bandung.

Pernah saya mendengar tetangga kampung saya menghabiskan tagihan telepon sampai 1 juta rupiah. Bilik curhat penyebab membengkaknya tagihan telepon. Lalu apakah penyebabnya? saya sedang mencari para pengguna fasilitas ini. Jika kamu pernah mencoba menghubungi bilik curhat bisa menceritakan kepada saya melalui balasan blog ini.



Selasa, 15 Januari 2013

Janji yang Dijanjikan

Saya sudah duduk di kursi empuk setelah sebelumnya menunggu keberangkatan. Beberapa sisi saya perhatikan banyak orang yang berlalu-lalang. Malam itu saya berangkat menuju Banjarmasin, Kalsel. Tujuan saya menyusul ibu saya yang sudah beberapa hari di Banjarmasin. Tapi yang penting menurut saya adalah pengalaman pertama saya berangkat dengan pesawat.

Pengalaman yang baru saya rasakan diumur hampir  seperempat abad. Maklumlah, keluarga kami dulu masih sering memanfaatkan angkutan bis dan mobil pribadi untuk menempuh tujuan. Luar Jawa tidak mungkin kami datangi karena jarak tempuh yang jauh dan biaya peswat yang kala itu masih terbilang mahal. Ibu saya contohnya baru mulai melirik moda transportasi pesawat tiga tahun belakangan. Hal yang mengharukan ketika ibu berkunjung ke Padang, Sumatera Barat setelah 28 tahun tidak menginjakkan tanah Minang. Ya ibu berkunjung ke rumah saudara tiri yang sudah kepati obor (kehilangan kontak) selama 28 tahun.
Kembali ke pengalaman tentang moda transportasi pesawat. Jika digambarkan saya cukup dekat dengan pesawat. Rumah saya dekat dengan bandara. Sewaktu kecil saya kerap diajak bapak untuk menjemput atau mengantar tamu ke bandara. Saya masih ingat dulu diajak bapak masuk ke anjungan bandara.

Saya selalu bertanya kepada teman-teman saya yang pernah terbang atau yang sering bolak-balik dengan pesawat. Cerita-cerita mereka saya rekam semua dalam pikiran. Memori kolektif tersebut yang menjadi bekal. “Nek nabrak mega ki rasane getar” jelas ibu mencerita sewaktu naik pesawat pertama kali. “Kalau delay sering dikasih snack” jelas tetangga saya. “Cuaca buruk, pesawat kami balik lagi ke tempat semula” jelas tetangga saya.

Akhirnya saya tiba di Bandar Udara Syamsudin Noor, Banjarmasin. Waktu tempuh perjalanan Jogja-Banjarmasin adalah 1 jam 20 menit. Terima kasih untuk ibu yang sudah memberikan hadiah kelulusan bagi saya berupa tiket pesawat. 

Kamis, 20 Desember 2012

Cerita Riset #5 Belajar Hidup dari Mbah Casmo


Sore hari ketika selesai mewawancarai salah satu respon saya berjalan menyusuri jalan setapak di belakang SD N Karangbrai 1. Saya menghampiri seorang kakek yang sudah cukup berumur. “Mbah napa niki leres ndaleme mbah Casmo?” tanyaku. “Nggih, panjenengan sinten saking pundi?” tanya mbah Casmo yang menjadi awal perbincangan.

Setelah mengobrol barulah saya mengerti pekerjaan mbah Casmo. Mbah Casmo bekerja di lading tebu sebagai buruh larikan. Larikan adalah sebuah cerukan tanah sepanjang 7,5 meter yang nantinya ditanami batang tebu. Mbah Casmo bekerja setiap pagi sampai menjelang siang. Ketika sore biasanya diisi dengan memetik buah duwet yang akan dijualnya di SD depan rumahnya. “Lumayan kangge jajan putu” jelas Mbaj Casmo ketika saya tanya untuk apa memetik buah duwet.

Mbah Casmo bercerita tentang zaman penjajahan yang terjadi di Karangbrai, tentang lurah, tentang organisasi PKI yang komunal di daerah tersebut sampai long march Mbah Carmo dari desa Karangbrai menuju Cirebon.  Awalnya mbah Carmo sedikit curiga dengan kedatangan saya namun setelah saya memperkenalkan diri dan menjelaskan maksud dan tujuan saya baru beliau paham.

“Nek pengen ngerti kerjoku, sesuk jam pitu marani aku neng sawah” jelas mbah Casmo yang beberapa kali mengulangi kata-kata tersebut. Sepertinya mbah Casmo ingin menjelaskan bagaimana larikan itu. Upah setiap membuat larikan adalah Rp. 500. Setiap hari mbah Casmo hanya mampu mengerjakan 20 larikan. Mbah Casmo biasanya mengambil upahnya jika sudah menyelesaikan 100 larikan.

Suatu malam ketika saya mengantarkan bingkisan, saya melihat mbah Casmo tidur di luar. Ya, rumah gedeknya sudah jauh dari layak. Mbah pernah berkata “napa sampeyan saking TV? Mengke kula di ajak dolan trus pas bali omah kula dadi apik?” (bedah rumah-pen). Mbah Casmo adalah pribadi yang menarik yang saya kenal. Beliau bersemangat menjelaskan tentang pekerjaannya kepada saya. Saya pun harus bangun pagi untuk menempati janji bertemu dengan beliau.

Senin, 19 November 2012

Bermain kolase

Saya mencoba membuat kolase, sepertinya seru setelah melihat pamerannya Ika Vantiani :) kolase ini dibuat dari software pada ipod.

Selasa, 23 Oktober 2012

Aku dan Kau Berada Dalam Lirik


Aku tau kamu suka ketika Meng Float memainkan chord gitarnya dan membawakan lagu “sementara”. Ya, aku tau itu. Sempat ku lirik wajahmu yang berada di depanku. Sumringah meski tugas-tugasmu banyak seperti menuruti ajakanmu menonton Float malam itu adalah pilihan yang tepat.

Susu murni panas adalah penutup yang pas selain lagu “pulang” milik Float yang harusnya menjadi pamungkas dalam acara tersebut. Susu murni dan aku memesan roti bakar dan es leci yang sudah menjadi menu tetap ketika berkunjung ke roti bakar di bilangan Sagan.

Pertanyaannya adalah apakah kita berada di lirik lagu “sementara” atau aku berada dalam lirik lagu “pulang”?

Sementara... lupakanlah rindu
Sadarlah, hatiku
Hanya ada kau dan aku
Dan, sementara... akan kukarang cerita
Tentang mimpi jadi nyata
Untuk asa kita berdua

Atau aku yang terselip sedang berada di lirik “pulang”

"Dan lalu...
Sekitarku tak mungkin lagi kini
Meringankan lara
Bawa aku pulang, rindu!
Segera!

Tidak ada penutup dalam tulisan ini karena saya sendiri tidak dan belum tau akhir dari cerita. Semua akan berakhir pada dua gelas coklat dan obrolan?

*) Teruntuk kamu yang sering manyun :*

Senin, 11 Juni 2012

JAKARTA?


Wis lulus trus ameh nengdi? Jakarta dab? wah!
Apakah Jakarta menjadi pelabuhan terakhir?
Jakarta? ya, untuk beberapa waktu sih asik tapi kalau harus bertahun-tahun sepertinya tidak.
Jakarta terlalu keras untuk saya.
Baiklah kita lihat peruntungan esok.
Andai saya harus ke Jakarta saya pastikan hati saya berada di salah satu sudut kota Jogja.
Sudut kota yang tenang, tidak sebanyak lalu-lalang seperti di Jakarta.

Minggu, 03 Juni 2012

Sewing Picnic (Kapan Piknik Lagi?)

Menikmati nasi rames dan sego pecel di depan Taman Bermain Kaliurang.
Pinky

Kaliurang itu juga punya buah andalan yaitu pisang kunci
*****

*****

*****

(Pinky - Mbak Mira - Mbak Iit - Mbak Kiky - Nana - Illa)

Pulang dari Secret Garden naik mobil sambil keliling seputar Kaliurang

foto oleh Dimaz Maulana

Nb: tidak ada deskripsi cerita di dalamnya, nanti ketika saya mulai bisa bercerita akan saya tulis. Jujur, saya masih suka dengan suasana dalam foto ini. Sepulang dari Pemalang, saya bertemu dengan pacar saya, Clarita Pinky Diorisa :*
Kapan piknik lagi?

Sabtu, 26 Mei 2012

Hutan Pinus


Langkah kami menanjak menaiki hutan Pinus. Suasana sejuk langsung menyambut kami. Ku lihat raut wajahnya sumingrah melihat menjulangnya pohon-pohon pinus di hutan ini. Perut kami juga sudah terisi karena beberapa jam sebelumnya kami sukses melahap semangkok sop ayam.

Getah menetes di setiap pohon pinus. Aku sempat melihat beberapa sayatan baru sepertinya ibu-ibu yang kami temui sebelum kami mulai memasuki hutan ini telah memperbarui sadapannya.


Ah, hutan ini tidak terlalu luas dan itu adalah nilai asiknya. Mengapa? karena kami tidak ingin menyusurinya terlalu dalam, cukup berada di tempat yang masih terjangkau. Aku berhasil memotretmu dengan kamera digital ini. Tidak salah jika kami membawa tripod, kami bisa mengabadikan momen melalui foto berdua. Ya, kameraku kini sudah mengenalmu sayang, kamu sudah direkam oleh kamera keluaran Canon seri 350D ini.

Perjalanan ditutup dengan berhenti di sebuah warung yang sedikit ndelik di daerah Imogiri Barat yaitu Sambel Welut Pak Sabar. Wow, kami memesan 3 menu yaitu sambel welut, welut goreng dan ikan gabus goreng. Menu di sini ternyata tidak cocok dihabiskan hanya dua orang saja. banyak sekali. Lelah sirna ketika aku yakin kamu puas dan senang dengan perjalanan ini.











Rabu, 23 Mei 2012

Pagi yang Menjelma

Aku dan pagi yang selalu bersinergi seperti hubungan matahari dengan waktu pagi. Pagi ini aku sempat bertanya masihkah aku menjadi pagi mu? Pagi yang menyapa lewat saluran mutakhir abad ini. Aku datang di depan rumahmu. Mata kita bertatapan dan raut wajahmu berubah. Ya, aku masih ingat beberapa menit yang lalu aku sempat menengok pesan singkatmu yang enggan aku balas. Mengapa? Tidak cukup rasanya kata-kata sejumlah 140 karakter untuk menjelaskan permasalahan. Mata kita harus bertemu dan mulut harus bicara.


Aku menjelma menjadi seikat mawar kuning. Entah dari mana asalnya mawar tersebut. Tidaklah penting yang penting mawar ini sudah berada di pelukanmu bersama dengan pagi mu. Jadi, apakah pagi mu sudah mulai lengkap? Semoga.


Roda-roda kita mulai bergerak dan kami menyusuri jalanan kampung. Pancal. Sawah, pepohonan dan teriknya matahari menjadi latar penjelas suasana kala itu. Sesekali aku mencuri pandangan ke arah mu, senyuman mu sungguh menawan. Ah, mengapa pagi terlalu cepat? Masihkah esok aku menjadi pagi yang menjelma menjadi seikat bunga mawar kuning?



Kamis, 15 Maret 2012

Derby Mataram “Dobel Anti Klimaks?”


Suasana atmosfir yang terasa dikalangan pendukung PSIM makin memanas. Hilangnya nyawa dalam insiden penusukan yang terjadi beberapa jam usai pertandingan PSIM menjamu Persiku Kudus menyisakan spekulasi yang beredar. Bagaimana dengan kondisi di dalam dan luar stadion ketika PSIM menjamu Persis Solo besok Jumat (16/3) di stadion Mandala Krida. Terlebih dengan dikeluarkannya larangan dari Kepolisian serta Panpel PSIM pada Rabu (14/3) tentang larangan menonton dengan menggunakan atribut yang mewakili kelompok suporter PSIM (Brajamusti dan Maident) menyiratkan maksud tertentu.

Dobel Anti Klimaks


Menjamu Persis Solo yang juga merupakan Derby Mataram sepertinya kurang greget. Persis Solo yang datang ke Mandala Krida bukanlah Persis Solo yang didukung oleh Pasoepati. Adalah tim yang terjun ke PT LPIS merupakan tim yang didukung oleh Pasoepati. Tapi, tidak menuntut kemungkinan para pendukung Persis Solo akan datang tanpa atribut dan sembunyi-sembunyi.

Jika PSIM menang dengan atas Persis Solo sudah pasti akan memantapkan posisi PSIM di papan atas kompetisi Divisi Utama 2011/2012. Namun kemenangan itu sepertinya terasa kurang mantap karena tidak mampu mengalahkan Persis Solo versi yang didukung oleh Pasoepati, pasalnya dalam tim Persis Solo tersebut terdapat pemain-pemain yang hebat yaitu Javier Rocha dan mantan penyerang Real Mataram Fernando Soler. Memang dalam hal ini terdapat tendensi emosional dari pendukung PSIM. Mencari pembuktian siapa tim yang paling kuat dalam pertandingan yang bertajuk Derby Mataram adalah hal penting.
Anti Klimaks kedua adalah suasana yang kurang kondusif pasca insiden hari Selasa kemarin. Di tengah para pemain PSIM membutuhkan dukungan, kita (pendukung PSIM –pen) sedang berusaha mencari siapa yang benar dan siapa yang salah. Pertikaian dan gesekan dalam stadion seharusnya segera diakhiri. Jika tak kunjung usai, mungkin akan terkembang senyuman bahkan tawa dari pihak-pihak yang menyukai pertikaian antar sesama pendukung PSIM ini.

Semoga tidak ada lagi insiden pertikaian baik besar atau kecil terlebih sampai nyawa melayang. Jangan sampai semacam insiden seperti 12 Februari 2010 kembali terulang atau sewaktu pertikaian ketika antara sesama pendukung PSIM pecah dan berakibat sanksi dari Komdis PSSI.
Aparat yang bertugas sepantasnya menjadi filter dan pengaman sehingga tidak ada lagi senjata tajam bisa masuk ke dalam stadion. Nyawa kuwi kog dadi ra ono regone.

Teks: Dimaz Maulana (BawahSkorMandala)

Kamis, 08 Maret 2012

Kupu-Kupu yang Terbang ke Surga

In to the light, this chapter ends. Two men will come, tell then no lies (Adhitia Sofyan – Into The Light)

Sebuah kabar duka saya terima. Salah seorang teman SMP kami meninggal dunia setelah beberapa bulan sebelumnya Dedi Ardyanto teman SMP kami juga telah menghadap Sang Khalik. Seperti biasa kabar duka langsung direspon oleh teman-teman untuk koordinasi untuk datang melayat.

Saya duduk bersila di depan bersama Tyo dan Panji setelah sebelumnya Arif pacar almarhumah menyuruh kami masuk. Di sana sudah ada tiga orang paruh baya yang sedang membacakan surat Yasin. Saya tepat berada disamping keranda. Sebuah foto Almarhumah terpampang dengan paras wajah yang cantik. Sebuah sepeda warna biru terparkir disudut ruangan sepertinya itu sepeda milik Almarhumah yang sering digunakan untuk berangkat kerja. Oia, ini kali kedua saya berkunjung kerumahnya setelah beberapa tahun. Saya kerumahnya sewaktu SMP bersama teman-teman ketika Ayahnya meninggal dunia.

Setelah lulus SMP, Saya dan Almarhumah beberapa kali bertemu pada kesempatan reuni. Meski tidak ada obrolan yang jelas dia sudah jadian dengan teman SMP. Perjuangan Arif patut diacungi jempol karena banyak yang menyukai Almarhumah. Arif selalu mendampingi Almahumah ketika sakit sampai ketika proses pemakaman dia juga terlihat sibuk menyambut para pelayat.

ya alloh,sembuhkanlah, sehatkanlah.. :) (18 Februari 2012)

Sebelum ajal menjemput, Almarhumah menuliskan status Facebook untuk terakhir kalinya. Sebuah pengharapan akan kesembuhan dan keluar dari beban yang menyusahkan orang lain. Kalimat itu semacam semangat untuk melanjutkan hidup namun Tuhan berkata lain. Ini takdir dan tidakk seorangpun tahu kapan ajal akan menjemput.

Selamat jalan kawan, suatu saat semua juga akan menyusulmu entah kapan bisa sekarang, nanti dua menit lagi, lima hari lagi, tujuh tahun lagi entahlah hanya Allah yang tahu. Benar juga pepatah jawa, urip mung mampir ngombe, setelah minum kita lanjut berlari ke kehidupan yang lain.

Nurra Sita Rahmawati (1989-2012)


Jumat, 10 Februari 2012

Balasan Untuk Kamu di Jakarta


Membongkar kotak ingatan itu menyenangkan (Dimaz Maulana)

Sms ajakanmu menonton Harpot masih saya ingat. Meskipun saya tidak mengikuti cerita Harpot tapi tak masalah jika harus menonton. Jika harus flashback jauh sekali ya? Berbalas testimonial dan saling nge-buzz via YM kegiatan yang sangat saya ingat.

“Kamu ada facebook dim?” tanyamu ketika hampir semua orang eksodus dari Friendster ke Facebook. Friendster mulai sepi ibarat desa semua orang sudah transmigrasi keluar pulau. Beberapa teman saya termasuk kamu sudah jarang nongol. Sesekali saya mengecek akun teman-teman termasuk kamu apakah ada status baru. Saya juga ikut “pindah” dan kembali mengabarimu bahwa saya sudah memiliki akun pada Facebook.

Dalam sebuah obrolan via YM, saya sempat bertanya tentang harga film slide. Kamu masih ingat itu? Film slide di Jogja terbilang langka bahkan tidak ada sehingga info darimu sangat penting. Meskipun pada akhirnya saya tidak jadi memesan film slide karena film yang saya cari tidak ada.

Pernah suatu hari kita ngobrol via Facebook tentang asmara kita masing-masing. Saya bercerita kalau baru saja jadian dengan anak Jakarta yang berkuliah di Jogja. Kemudian saya melempar pertanyaan dan kamu menjawab, sudah jadian dengan seorang fotografer. Sampai suatu hari kita bertemu via chat Facebook, bahwa saya sudah putus dan kamu masih jalan dengannya.

Perkenalan saya dengan pacarmu sore itu membawa obrolan yang tidak garing. Kami berbicara musik dan saya berjanji akan mengantarkannya ke studio milik Endank Soekamti jika dia datang ke Jogja. Sesekali saya mengirim pesan atau mengomentari statusnya sembari menanyakan kapan datang ke Jogja.

Ketika kamu mengabarkan bahwa Om, Tante dan mas Caca akan berkunjung ke Jogja saya sangat gembira. Terlebih jika kamu dapat ikut juga karena ada beberapa tempat yang harus patut kamu kunjungi. Saya juga berharap kamu dan keluarga mau berkunjung kerumah saya. Berkenalan dengan Ibu dan adik-adik saya sembari menikmati suasana rumah saya yang masih banyak sawah. Tidak lupa untuk mencicipi masakan ibu saya yang pastinya akan membuat berkesan dan juga rindu untuk kembali datang.

*saya malu ke Jakarta jika skripsi saya belum selesai

Senin, 06 Februari 2012

Sopan Jati


Seperti biasa saya membaca koran pagi pada sore hari. Itu karena Ibu membeli koran ketika di Pasar dan baru membawa pulang pada sore harinya. Tidak sengaja saya membaca sebuah artikel tentang seseorang tunanetra yang berencana melaksanakan pernikahannya. Apa yang istimewa? Sopan Jati adalah lelaki tunanetra yang ternyata kakak kelas saya sewaktu SMP. Saya mengenalnya sebagai seorang pribadi yang bengal. Pernah suatu hari saya melihat Sopan Jati terlibat dalam perkelahian dengan kawan saya. Sampai-sampai keluarga teman saya yang dipukulinya mencarinya di warung tempat biasa anak-anak SMP nongkrong sepulang dari sekolah.

Hanya sampai disitu, setelah lulus SMP saya jarng bertemu dengannya. Hanya saya pernah mendengar kabar kalo Sopan membuat roti dan menitipkannya di warung tempat anak nongkrong SMP. Selebihnya saya tidak tahu sampai akhirnya saya membaca koran.


sumber: Kedaulatan Rakyat, 4 Februari 2012

Asmoro Klub: Sebuah Bentuk Pengarsipan Seputar Sub Urban Culture Indonesia


“Djika toean merasa senang liat gambar-gambar di “Asmoroklub” djangan loepa kasi taoe djoega pada toean poenja sobat-sobat” (Dikutip dari Majalah Doenia Film tebitan tahun 1930 dengan sedikit perubahan)

Ungkapan yang saya kutip dari majalah Doenia Film sepertinya cocok untuk Asmoroklub yang mati suri tertanggal 5 Februari 2011. Sepanjang kiprahnya, Asmoroklub menampilkan hal-hal menarik yang bisa membuat kita tertawa, terkekeh-kekeh, heran, bingung, bahkan kagum atau gumun. Asmoroklub mencoba mengumpulkan ‘balung pisah’ segala bentuk karya sub urban culture Indonesia yang berserakan.

Pertemuan saya dengan Asmoroklub sewaktu teman saya, Ical yang memberi sebuah link tumblr. Waktu itu saya belum memiliki akun, saya mencoba membuka kolom archive. Saya ubek-ubek sampai akarnya dan saya berpendapat ini keren. Postingan yang saya lihat adalah sebuah truk bertuliskan kata-kata kocak. Ada juga potongan video Rhoma Irama yang merupakan karya dari akun tumblr Dashenfo yang saya duga vokalis Goodnight Electric. (mohon dikoreksi jika saya salah)

Saya terus memantau postingan Asmoroklub sampai akhirnya saya membuat akun tumblr dan mencoba peruntungan dengan submit karya. Sebuah karya saya masuk dan terpajang dalam Asmoroklub. Saya semakin getol untuk membuat karya. Saya lebih suka membuat karya yang sedang heboh pada masa mutakhir dengan membandingkannya dengan hal-hal yang sudah lampau.

Kembali ke mati surinya Asmoroklub, “wah, berkurang satu deh web yang biasa dibuka pas ngantor” tutur Diah. Mati suri atau vakumnya Asmoroklub karena “Presiden yang juga Dewan Pembina-nya” sedang menuntaskan Tugas Akhir.  Semoga Asmoroklub bisa aktif kembali seperti Suzanna yang bangkit dari kubur. Tenang, bersamaan dengan vakumnya Asmoroklub muncul pula akun twitter resmi milik Asmoroklub. Dengan adanya akun twitter, Asmoroklub bisa memberi informasi yang ciamik bagi para followernya. Seperti yang tertulis dalam tumblr Asmoroklub, terima kasih kepada stiker angkot, jalur pantura, Rhoma Irama, rayuan gombal dan anggur merah yang selalu menghadirkan inspirasi.

Tak lupa salam hormat saya untuk Mas Boy, Bunda Suzanna dan Barry Prima.

@dimazmaulanaa (Mahasiswa tingkat akhir jurusan Ilmu Sejarah, UGM)

Minggu, 05 Februari 2012

Surat Untuk si T


Saya mencoba untuk menulis lagi sepucuk surat cinta. Terakhir kali saya menulis surat cinta sewaktu saya SMP. Ah, saya jadi bercerita tentang masa lalu. Malu.

Dear T,
Saya tidak mengira saya memiliki rasa suka kepadamu T. Entahlah, awalnya saya sering bertemu entah di dunia nyata ataupun dunia maya. Mengobrol apa saja meskipun saya pikir tidak terlalu intensif. Yang jelas saya nyambung dengan kamu. Jika diingat-ingat lagi saya sering bersama dalam beberapa kesempatan. Jalan, makan, nonton dan masih banyak pertemuan yang sudah kita lakukan baik sengaja maupun tidak disengaja, Jodoh? Mungkin.

Saya katakan saya kagum dengan prestasi kamu. Saya sangat suka kepada seseorang yang pandai. Saya tidak dapat menjelaskan dimana letak asiknya. Mungkin asik bila kita berdua mengunjungi toko buku hanya untuk membaca secara gratisan. Mungkin kita juga bisa ke pameran foto atau seni rupa hanya untu memanjakan mata dengan melihat karya seni yang membahana. Mungkin kita bisa menikmati kuliner murah namun yang enak sesuai dengan gayamu. Mungkin kedai yogurt referensiku bisa menjadi tempat kita beristirahat setelah jalan-jalan kesejumlah tujuan. Di sana kita bisa menikmati segelas yogurt dan setangkup roti bakar sembari menanti cerita-cerita dari mulutmu.

Foto. Kameramu sering abadikan berbagai macam tempat yang selalu kamu kunjungi. Tapi, aku yakin belum ada frame diriku dalam kameramu. Begitu juga dengan kameraku belum ada dirimu. Eh, tunggu sebentar, sepertinya aku pernah memotret dirimu. Bukan foto pose sih tapi tak masalah, berarti kameraku sudah pernah merekam wajahmu. Jadi, esok ketika kita sering bersama kameraku tidak bingung. “Kamu, siapa ya?” tutur kamera 350D

Jumat, 03 Februari 2012

Persija dan Mandala Krida (6 Tahun Yang Lalu)

sisi utara stadion tua Mandala Krida
Sumber: liat disini


Dikabarkan bahwa Persija Jakarta akan memakai stadion Mandala Krida untuk partai kandang mereka dalam lanjutan Indonesian Super League (ISL). Stadion GBK tidak dapat digunakan karena ada permasalahan yang memaksa Persija harus bermain sebagai tuan rumah di ‘kandang’ orang. Sangat aneh otoritas tertinggi di negeri ini dalam hal olahraga dipegang oleh Kepolisian. Bukan induk organisasi seperti yang diberlakukan di Inggris, FA berhak memutuskan pertandingan dimulai atau ditunda sedang di Indonesia, polisi yang berhak atau memberi ijin sebuah pertandingan digelar atau ditunda.

Kembali ke Persija, sore itu saya datang ke mandala. Tampak orang-orang mengenakan atribut oranye mendominasi di sekitar stadion. Saya datang untuk menonton Persija. Ingatan saya mencelat ke enam tahun yang lalu.

Bepe masih menjadi andalan Persija


*****
Sepulang sekolah saya buru-buru pulang dan langsung menjemput teman saya. Kami bergegas menuju stadion kala itu PSIM menjamu Persija. Gila. Mandala Krida sudah padat sekali, tiket box sudah ludes dan kami kehabisan tiket. Ludesnya tiket sudah seperti menonton konser akbar saja. Alhasil, calo menjadi solusi tepat padahal saya pribadi tidak suka membeli tiket pada calo.

Ketika berada di stadion kami harus melihat dari bawah karena tribun sudah penuh dengan Brajamusti dan Jak Mania cukup banyak datang ke Jogja. Saya memang sudah lupa bagaimana jalannya pertandingan tapi saya masih ingat ketika Hamka Hamzah berlari di tepi lapangan menggiring bola sembari tertawa kecil. Para pemain Persija terlihat santai melayani permainan PSIM. Benson sepertinya menyamakan kedudukan menjadi 1-1, Persija lebih dulu mencetak gol melalui Oscar Aravena. Yang jelas PSIM harus mengakui Persija ketika itu skor menjadi 2-1. Beberapa hari setelah menjamu Persija, PSIM bersama tim asal DIY (PSS dan Persiba) absen dalam segala lanjutan Liga karena terkena bencana gempa bumi pada 27 Mei 2006. (saya mencoba mengingat-ingat secara detail tetapi sangat susah mohon dikoreksi jika salah)
*****
Persija melawan Persiwa Wamena berjalan monoton pada babak pertama, Persija berusaha membongkar pertahanan Persiwa namun selalu gagal. Sebaliknya, Persiwa mengandalkan serangan balik untuk mencuri poin. Persija yang datang ke Mandala memang berbeda dengan Persija pada tahun 2006. Pertandingan juga sempat ditunda karena pendukung Persiwa tidak puas dengan keputusan wasit Setiyono yang memberi hadiah penalti untuk Persija. Bambang Pamungkas berhasil menyamakan kedudukan menjadi 1-1 setelah sebelum Persiwa unggul melalui Yesaya Desnam. Persija kembali kebobolan lewat aksi Boakai E. Foday. Persija akhirnya kalah 2-1 dari Persiwa.

Dulu Persija menang di Mandala Krida namun sekarang mereka kalah. Mereka kalah setelah sebelumnya juga harus kalah dari Persib. PSIM kemarin hampir saja kalah andai saja tendangan bebas Rimkus tidak bersarang ke jala Persebaya. Mandala Krida sepertinya mulai dilirik sebagai alteratif kandang untuk tim-tim yang sedang bermasalahan dengan stadion mereka atau ijin tanding di kota asalnya. Semoga perbaikan stadion Mandala Krida yang sudah direncankan oleh pemerintah Propinsi segera terlaksana. Kami mendambakan stadion yang bagus dengan kualitas rumput internasional. Masa kalah dengan stadion tetangga sebelah?

Dimaz Maulana/ Bawahskormandala