Sabtu, 26 April 2014

Cerita Jogja, 25 April 2014



Umpan tarik dari Engkus Kuswaha disambar dengan cepat oleh Suprex lalu diteruskan dengan tendangan keras. Gol. Supri berlari kegirangan ke arah tribun. Bagaimana tidak sudah tiga laga ini dia selalu dimainkan sebagai pemain pengganti yang diharapkan memecah kebuntuan tim. Seto kali ini beruntung sekali memasukkan Suprex. Gol Suprex melengkapi gol PSIM sebelumnya yang dicetak dengan santai lewat sundulan oleh Tri Handoko.

Wuih laga kandang kedua kali ini sangat mendebarkan. Jika PSIM kalah, lawatan ke Sleman menjadi semakin berat. PSIM saat ini memperoleh empat poin sama dengan perolehan PSS Sleman.
Owin kemarin bermain apik. Dia bermain lugas. Gelandang pengangkut air baru setelah Eko BS tak kunjung sembuh pasca cedera. Owin kemarin memiliki visi bermain yang bagus, intercept-nya juga ciamik.

Oni yang kemarin (saat melawan PSBK Blitar) kebobolan 3 gol bermain lumayan. Namun saya ketir-ketir kala pemain PSBI Blitar menggempur habis-habisan. Sayang, wasit menghadiahi kartu kuning karena dianggap mengulur-ulur waktu.

Poin penuh semoga menjadi keran bagi PSIM. Meski pesimis pada laga melawan PSS Sleman namun tidak ada salahnya berharap. Semoga para pemain PSIM bermain kesetanan. Tri Handoko mampu menjebol gawang Ali Barkah atau Herman Batak sekaligus. Ndok begitu sapaannya pernah menjadi idola supporter Sleman. Kita tunggu saja apakah Ndok memiliki kesempatan membobol mantan tim nya? Atau malah legiun asing mereka, Kristian Adelmund yang pernah memperkuat PSIM yang tampil sebagai pencetak gol. Kita tunggu saja kawan.

Selasa, 22 April 2014

Cerita Jogja, 22 April 2015

“PSIM kapan main sih?” beberapa orang menanyakannya sekitar delapan bulan lalu.

Tiket sudah di dapat, saya datang lebih awal untuk bertemu dengan seorang kawan. Ipod tak lupa saya bawa siapa tahu mendapat gambar terjadinya gol.

Masuk stadion suasananya menurut saya tidak penuh tapi lumayanlah untuk sekelas stadion Mandala Krida. Beberapa teman saya sibuk dengan laskar/komunitasnya. MC membacakan susunan pemain tanda pertandingan segera dimulai. Saya masih sibuk mengambil gambar untuk liputan independent.

Eko Kancil ditarik keluar lapangan, Dimas Priambodo eks Tunas Jogja masuk menggantikannya. 
Sebelum pertandingan saya sempat berbincang dengan Kancil-begitu nama panggilannya. “Mas nanti semoga bisa full”. “Iya mas Insya Allah, bisa” jawab pemain yang telah mencicipi Ligina sejak tahun 1999.

Lapangan tengah PSIM terasa berat setelah perginya Kancil. Dimas sebenarnya tidak tampil buruk. Tri Handoko yang mulai nyaman bermain di sisi kanan beberapa kali merangsek masuk ke pertahanan PSBK Blitar. Dia berani duel dengan pemain asing PSBK yang tinggi besar. Licin. Tri Handoko akhirnya membuka skor untuk PSIM. Tuan Rumah bersorak menyambut gol.

Seorang teman berseloroh, “Mengapa Oni mengganti sarung tangannya setelah PSIM unggul?”

Tidak berapa lama PSBK mampu menyamakan lalu membalikan keadaan menjadi 1-2. Tuan rumah semakin tertekan, bermain dihadapan publik sendiri Topas dkk. Sulit membongkar pertahanan lawan.
Umpan tarik Suprek –panggilan Supri disambar oleh Arga Permana namun sayang bolanya tipis diatas gawang. Asa melambung.

Engkus Kuswaha yang didapuk sebagai targetman praktis minim peluang. Gol terakhir dari PSBK juga terasa menyesakan, berawal dari serangan balik, Andri Wirawan mencoba mengawal namun terlihat ragu-ragu dalam mengambil keputusan. Topas, Andri dan Eko Pujianto mampu dilewati dan lesakan menghujam gawang Oni.

Partai kandang pertama berhasil diambil tim tamu, masih ada laga kandang melawan PSBI Blitar. Semoga mental bertanding tim Laskar Mataram sudah siap untuk merumput kembali. Dan setiap pemain sudah bersinergi, umpan pendek yang tepat, umpan terobosan yang manja dan lesakan bola yang terarah tetap kami nanti.

Selasa, 15 April 2014

Cerita Ngawi, 15 April 2014


Truk, bis, dan mobil lainnya kami lewati. Jalanan ramai dan berdebu. Jalan lintas Propinsi. Kami tiba di Ngawi , Jawa Timur.

Ngawi adalah kota dimana mata saya terbangun jika melakukan perjalanan ke Surabaya. Bis Patas Eka selalu transit untuk makan dan aktivitas lainnya.

Pertandingan hampir dimulai, kami yang berkumpul di sebelah utara segera masuk ke stadion. Sebelum pertandingan saya sesumbar kepada seorang kawan, “Tri Handoko bakal mencetak gol”.

Dan ternyata sesumbar saya benar, Ndok begitu sapaan dari Tri Handoko mencetak gol. Berawal dari tendangan pojok Topas yang membentur tiang kemudian kemelut terjadi di depan gawang, Sepakan Ndok menggetarkan jala Persinga Ngawi.

Meski akhirnya tuan rumah mampu menyamakan kedudukan menjadi 1-1. Eko Pujianto beberapa kali 
menghadap ke utara seraya mengayunkan tangannya meminta semangat dari kami. PSIM sempat tertekan, serangan tim tuan rumah semakin gencar. Arsene Ntolo satu-satunya legiun asing yang mereka miliki turut dimainkan pada babak kedua.

Ndok nampak terengah-engah mendekati bubaran. Engkus hampir saja mencetak angka namun usahanya masih jauh dari kata sukses. Supri tampil sebagai pemain pengganti belum bisa menjadi kartu As bagi Seto yang kala itu melakukan debutnya sebagai Pelatih di kancah Divisi Utama.

Namun seperti yang sudah dilontarkan oleh Seto, target main dikandang lawan adalah seri pun terwujud. PSIM harus puas dengan hasil yang dicapai namun jangan sampai terlena, dua laga kandang harus bisa diamankan. Berharap dengan bermain di depan public sendiri tim Laskar Mataram mampu tampil lugas dan efektif.

Sabtu, 28 Desember 2013

Kita adalah Benalu

Klub ibarat pohon yang tumbuh besar. Akarnya sudah menancap di tanah sejak klub tersebut dilahirkan. Jika klub itu lahir di era awal Perserikatan bisa dibayangkan akar tersebut sudah menjalar kemana-mana. Klub yang sudah malang melintang di segala kompetisi seyogyanya semakin maju. Mundur atau yang paling parah adalah bubar merupakan mimpi buruk yang tiada akhir. Bubar berarti tinggal nama dan hanya bisa dipandang di buku-buku atau tulisan semata.

Klub tidak bisa lepas dari orang-orang yang berada di sekitarnya. Orang-orang ini tidak lain adalah manajemen, suporter dan pembuat merchandise. Mereka-mereka terkadang merugikan klub namun tidak jarang mereka dirugikan oleh klub.

Manajemen
Orang-orang yang bernyali/tidak memiliki pilihan lain untuk mengurusi klub. Mereka ini adalah penggerak roda-roda klub dalam mengarungi kompetisi. Mulai dari menyiapkan tim beserta pelengkapnya. Selain itu memikirkan cara membayar tunggakan gaji pemain, sewa stadion, catering dan masih banyak lagi. Bahkan tak jarang benda-benda berharga yang mereka miliki terpaksa harus di “sekolahkan”. Namun disatu sisi mereka benalu bagi klub, bisa dilihat siapa saja yang bekerja dan tidak di jajaran manajemen. Makan gaji buta.

Suporter
Pewaris abadi klub adalah suporter. Loyalitasnya kepada klub itu yang diharapkan dari mereka. Kemana pun klub tersebut bermain mereka secara swadaya hadir di stadion lawan. Tidak semua kaya namun tidak semua miskin yang jelas mereka bekerja keras sekuat tenaga mendukung klubnya. Mental masuk stadion tanpa tiket adalah tindakan yang merugikan klub. Efek fanatisme terkadang menjadi blunder. Tak jarang klub didenda akibat ulah suporter yang brutal. Klub harus menanggung beban. Uang berkurang dan pindah kandang.

Merchandise Bajakan
Kreatif mereka mengolah bahan-bahan mentah disulap menjadi merchandise klub. Kegiatan ini sejatinya illegal tapi sudah menjadi budaya. Budaya membajak memang menjadi kegiatan yang biasa. Selain itu membeli barang bajakan seolah sesuatu yang wajar. Alasan ekonomi dan harga yang ekonomis me-labelinya. Mereka-mereka juga merugikan klub karena menjual produk secara illegal. Namun disisi lain merchandise adalah bukti eksistensi klub bagi para penggemarnya.

Kita adalah benalu. Saya adalah benalu. Klub menjadi korban yang dirugikan oleh orang-orang yang menyusu. Sudah saatnya berbenah, Apakah kamu ingin berbenah juga? Saya pun ingin begitu, berjalan di jalan yang legal dan benar.

Dimaz Maulana,
Pengelola akun pengarsipan @BAWAHSKOR

Rabu, 17 Juli 2013

Setapak Menuju Gunung Prau


Sudah lama saya tidak liburan. Selalu saja ada saja kesibukan yang mangharuskan saya menunda liburan saya. Setelah kemarin saya bekerja selama 3 bulan, saya sudah memiliki rencana untuk meluangkan waktu untuk liburan. Gayung bersambut ketika scroll pada smartphone berhenti pada twit dari @ekspedisimagz yang berencana mengadakan liputan ke Karimun Jawa. Sontak saya tertarik sekali untuk bergabung. Amboy, rencananya tim ekspedisi tersebut akan mencari bahan untuk materi tulisannya di Karimun Jawa selama seminggu. Wow, pikiran saya seolah-olah sudah mencelat ke Karimun.

Saya sendiri belum pernah berkunjung ke pulau tersebut. Tapi imajinasi saya atas cerita-cerita teman-teman yang pernah kesana yang seolah-olah membuat saya bersemangat untuk berangkat liburan. Saya kemudian menyiapkan barang bawaan, mulai dari makanan, obat, alat perekam dan uang.



Pada hari H, Tantri mengirim sebuah pesan singkat yang berisi ombak tinggi di Laut Jawa. Secepat kilat saya menyalin pesan itu dan memberitahukan kepada Farid, ketua rombongan. Benar pada sore harinya Farid mengabari bahwa PT Pelni tidak akan memberangkatkan kapalnya pada esok hari. Wah, kekecewaan menyelimuti tapi mau bagaimana lagi hanya kapal motor yang menjadi satu-satunya alat transportasi untuk ke pulau Karimun Jawa.

Saya iseng bertanya kepada Tantri tentang alternatif liburan. Dia memberi dua opsi yaitu Umbul Ponggok di Klaten dan Dieng Plateu. Tak berapa lama Tantri mengirimi saya link tentang salah satu obyek trek pendakian gunung di dataran tinggi Dieng. Gunung Prau, begitu ketika saya membaca judul yang diberikan Tantri. Tanpa banyak berfikir saya setuju dengan pendakian Gunung Prau.

Perjalanan Jogja-Wonosobo-Dieng sekitar 2,5-3 jam  lewat Sapuran, Magelang. Setiba di Dieng kami menuju obyek Telaga Warna, Goa Semar dan Telaga Pengilon. Kemudian kami melanjutkan menuju Candi Arjuna dan Kawah Sikidang. Semua obyek tersebut memang menarik tapi saya jauh lebih tertarik dengan hamparan lading sayur-mayur yang ada di daratan tinggi Dieng. Saya jadi teringat ketika berkunjung ke Guci, Tegal. Secara kontur memang hampir mirip. Wortel, Sawi, Labu Siam, Kacang Koro dan Kentang sebagai primadona para petani setempat.



Setelah mengunjungi semua obyek wisata Dieng, kami memutuskan untuk memulai mendaki Gunung Prau. Kami berangkat dari Desa Kejajar. Perjalanan pendakian ditempuh selama 2,5 jam. Jujur saja saya sudah lama sekali tidak mendaki gunung. Mungkin terakhir kali ke Merapi itu pun semasa SMA. Selama perjalanan sesekali kami beristirahat. Saya melihat Penggok membawa cukup berat karena membawa tenda.



Gunung Prau memiliki beberapa vegetasi yang beragam seperti bunga-bunga kecil, cemara, pakis dan banyak lagi yang saya tidak tahu nama tumbuhannya. Dalam perjalanan saya menemui banyak tanaman murbey. Wow, sudah lama saya tidak menjumpai jenis tanaman ini. Oia, trek Gunung Prau cukup aman untuk dilalui. Tidak perlu khawatir hanya saja tidak ada sumber mata air selama perjalanan sampai ke puncak. Sumber mata air terakhir ada di Desa Kejajar.

Sabtu, 13 April 2013

Banguntapan#1 - Preamble



Bang-un-ta-pan begitu pengucapannya. Sudah hampir 25 tahun saya tinggal di sini bersama orang tua saya. Sejak TK sampai SMA saya juga sekolah di wilayah ini. banyak cerita tentang wilayah ini dalam rentang waktu hampir seperempat abad.
Banyak teman yang datang dan pergi meninggalkan tempat ini. Bangunan baru bermunculan menggantikan areal persawahan. Bermunculan pula supermarket baru yang bersaing dengan pasar tradisional. Warung, angkringan dan toko kecil bermunculan mencari rezeki.
Jalanan aspal di ruas utama menggantikan jalan tanah. Sudah tidak ada lagi gerobak sapi yang membawa jerami. Jarang sekali saya melihat pemuda kampung bermain burung dara. Beruntung masih melihat bebek-bebek yang di”umbar” oleh pemiliknya. Masih ada juga orang yang menggembala ternaknya seperti kambing di wilayah saya.
Awal Cerita

Beberapa bulan lalu saya melintasi jalan di belakang JEC. Di sana terdapat BLPP (semacam balai pertanian) dan perumahan dinas. Ternyata dua tempat tersebut sudah tidak ada penghuninya. Kosong. Terlihat sepi hanya ada rumput dan bangunan rumah yang mulai rusak. Kantor BLPP juga sama tidak terawat dan terlihat menyeramkan.
Pikiran saya mencelat ke masa SD. Saya dulu sering ke wilayah tersebut. Kebetulan teman saya ada tinggal di perumahan. Pernah suatu hari kami mencuri buah cokelat yang ada di BLPP. Hari itu pertama kalinya saya mencicipi buah cokelat. Saya juga baru tau kalau buah cokelat lebih enak kalau dibanting daripada diiris, ketika hendak mencicipi.
Waktu itu juga lagi maraknya sepeda ceper. Pagar BLPP yang terbuat dari besi pipih menjadi bahan incaran. Beberapa bagian hilang dicuri. Seorang teman mengaku mencuri besi dari BLPP. Saya sendiri yang tidak mengikuti tren sepeda ceper hanya tercengang.
Saya pernah mendapat seekor lele di kolam pemancingan BLPP. Waktu itu seingat saya ada acara 17-an, saya bersama teman-teman mengikuti lomba tangkap ikan. Sebuah kolam berukuran cukup besar dengan air keruh. Susah sekali mencari ikan tanpa jaring dan di dalam air keruh.


Jumat, 22 Maret 2013

Bilik Curhat Siapa Pernah Coba?


Siapa yang suka curhat? semua orang pasti butuh menyalurkan uneg-uneg atau permasalahannya kepada orang lain yang bertindak sebagai pendengear setia. Ya, interaksi ini memang normal adanya. Namun teknologi memudahkan kita untuk curhat atau bercerita dua arah secara langsung tanpa dibatasi oleh jarak. Buktinya penemuan telepon oleh Alexander Graham Bell.

Tinggalkan Alexander, pernah ada suatu masa ketika banyak iklan di media massa yang menawarkan bilik-bilik curhat dua arah. Kemarin saya membaca koran Kedaulatan Rakyat terbitan tahun 2001. Cukup banyak iklan-iklan bergambar sensual yang menawarkan fasilitas bilik-bilik curhat. Nomor-nomor hotline terpampang jelas memudahkan kita untuk menghubunginya. Saya pribadi saat itu belum pernah mencoba selain takut biaya pulsa yang dikenakan setiap menitnya berkisar Rp. 3.250/menit. Harga yang mahal dan setara biaya interlokal ke Jakarta atau Bandung.

Pernah saya mendengar tetangga kampung saya menghabiskan tagihan telepon sampai 1 juta rupiah. Bilik curhat penyebab membengkaknya tagihan telepon. Lalu apakah penyebabnya? saya sedang mencari para pengguna fasilitas ini. Jika kamu pernah mencoba menghubungi bilik curhat bisa menceritakan kepada saya melalui balasan blog ini.



Rabu, 20 Maret 2013

Jogja Library Center Malioboro



Ada satu sudut menarik di jalan Malioboro tepatnya di depan hotel Inna Garuda yaitu Jogja Library Center (JLC). Bangunan tua dengan dua lantai ini memiliki fasilitas seperti privat room study, kumpulan surat kabar, majalah, dan buku. Lantai pertama untuk koleksi majalah dan surat kabar. JLC buka setiap Senin-Jumat (08.00-16.00) & Sabtu (08.00-13.00).


Saya sendiri suka membaca surat kabar di sini. JLC memiliki koleksi surat kabar dari tahun 1940-2008. Mulai dari Kedaulatan Rakyat, Kompas, Bernas, Sinpo, dan Keng Po. Ada dua cara yang dapat dilakukan untuk membaca koran di sini yaitu dengan membaca secara langsung yaitu mencari kumpulan koran di depo. Kedua, membaca dikomputer via pdf berbeda dengan fasilitas di Perpusnas, Jakarta yang memiliki alat micro reader yaitu alat untuk membaca koran seperti microskop. 

 Untuk koleksi majalah ada Hai, Gatra, Tempo, Djoko Lodhang dan Femina. Sebenarnya ada majalah yang lebih lawas lagi namun kondisinya sudah usang namun masih bisa diakses. Untuk mengakses majalah lawas seperti Kuncung bisa bertanya dengan petugas perpustakaan. 


 Untuk lantai atas berisi literatur populer serta gudang majalah serta surat kabar. Beberapa surat kabar 3 tahun terakhir masih dikumpulkan dan akan dibendel menjadi satu buku. Lantai atas biasanya digunakan beberapa orang untuk belajar kelompok. Perpustakaan ini juga dilengkapi dengan koneksi nirkabel atau wifi. Namun saya sering memanfaatkan fasilitas tersebut karena jaringannya masih lambat. Tapi tidak ada salahnya untuk memanfaatkannya.


Senin, 11 Maret 2013

Permainan Ketangkasan di Pabrik Gula Sragi


Dua hari sudah kami tinggal di Desa Karangbrai. Rencananya seminggu kami akan tinggal di sini untuk melakukan observasi awal. Waktu itu masuk bulan giling tebu. Pabrik gula di Comal memang sudah tidak aktif menggiling tebu. Hanya tinggal Pabrik Gula (PG) Sragi yang terletak di Pekalongan.

Menurut info dari warga setempat ada acara pasar malam bertempat di lingkungan PG Sragi. “Wah sopo reti ono kolok-kolok[1] tutur Sofyan. Salah satu teman saya ini memang tertarik judi, keinginannya menyelesaikan studi S1 tentang perjudian.



Akhirnya kami bisa berangkat ke Pasar Malam PG Sragi dengan bantuan sepeda motor dari Bu Lurah. Jalanan mulai padat ketika motor kami menyusuri pasar malam untuk mencari tempat parkir. Target awal kami memang mencari arena judi namun setelah menyisir ke semua sudut pasar malam tidak menemukannya. Nihil. Saya sempat bertanya dengan pengunjung ternyata judi di sini sudah tidak ada lagi.

Kami menemukan beberapa permainan ketangkasan yang menarik. Ya permainan ini sebenarnya juga perjudian namun dikemas lebih lembut. Permaian pertama yaitu melempar gelang-gelang rotan ke sebuah kayu segitiga. Kayu-kayu tersebut sudah diberi nomor yang menentukan hadiahnya. Harga yang dikenakan Rp. 1.000/ 3 gelang. Saya sempat mencoba namun gagal. Gelang-gelang yang saya lempar susah sekali masuk ke kayu.


 Saya melihat seorang pengunjung yang mencoba permainan ini. Pria itu berbadan tinggi hanya dengan mencondongkan badannya dan melempar gelang-gelang yang ada di tangannya. Dari beberapa gelang yang ada di tangannya, hampir sebagian besar masuk ke kayu segitiga. Pria itu mencari nomor yang berhadiah rokok. Seorang teman bertugas membawakan hasil perolehannya. Terlihat beberapa merk rokok filter sudah didapatnya. Selain itu sebotol besar minuman bersoda dan makanan ringan sudah didapatkannya.

Permainan kedua yaitu menutup lingkaran merah dengan tiga seng. Sepintas permainan ini mudah namun kenyataannya para pengunjung banyak yang gagal. Harga permaianan ini dipatok Rp. 1.000 untuk sekali permainan. Permainan ketiga yaitu melempar kaleng-kaleng usang yang disusun tinggi kemudian dilempar dengan bola tenis. Permainan ini yang menurut saya paling mudah dari semua permainan ketangkasan yang lain.

Akhirnya kami pulang ke rumah, hanya Sofyan yang berhasil mendapat sebotol minuman bersoda. Permainan yang ada di pasar malam lumayan menghibur. Setidaknya ada sekitar 15 stand permainan ketangkasan. Jika kamu sedang di Pekalongan pada bulan Mei-Juni sempatkanlah datang ke PG Sragi.




[1] Sebuah permainan judi di wilayah Kalimantan


Sabtu, 09 Maret 2013

Ayo ke Museum Lagi: Museum Gula Gondang Winangoen



Beberapa kali melintasi jalan Jogja-Solo, saya melihat sebuah papan nama bertuliskan “Museum Gula”. Saya merasa penasaran apa aja yang dipajang di dalam museum. Kemarin saya berangkat dari Jogja sekitar pukul 8.30. Perjalanan sekitar 20 menit dari Jogja. Museum ini terletak di Jogonalan, Klaten tepatnya tepi jalan Jogja-Solo sehingga cukup mudah untuk dikunjungi.


Harga tiket masuknya Rp. 5.000,- cukup murah dan masih terjangkau. Di halaman museum terdapat lokomotif tua yang sudah “istirahat”. Ada sebuah lokomotif yang diberi nama “Simbah” yang merupakan lokomotif tertua yang dimiliki pabrik gula ini.
Masuk ke dalam museum terdapat sebuah maket besar tentang bangunan pabrik serta daerah-daerah areal perkebunan tebu yang dimiliki pabrik ini. Terdapat juga mesin-mesin penggilingan tebu, alat-alat untuk menanam, jenis-jenis gulma, jenis hama, sampai peralatan kantor pabrik tersebut dari masa ke masa.



Museum ini tampaknya kurang terawat. Terlihat beberapa maket sudah rusak dan usang. Lampu-lampu penerangan benda-benda museum juga tidak menyala semua. Suasana museum terlihat gelap dan menyeramkan. Museum ini sebenarnya menarik untuk dikunjungi karena menambah informasi tentang seluk-beluk pabrik, tebu dan olahannya yaitu gula.

Satu hal lagi yang menarik dari berkunjung ke pabrik gula ini yaitu mengunjungi museum dan dilanjutkan dengan masuk kedalam pabrik. Namun perjalanan tersebut harus rombongan minimal 8-12 orang. Biaya yang dikenakan untuk masuk museum dan pabrik gula Rp. 10.000 namun ada juga paketan dari pabrik gula yaitu paket masuk museum, pabrik, dan eco park dengan menaiki lori. Untuk paket yang ini hanya bisa dilakukan minimal 30 orang.


Apakah kamu tertarik? Jika berminat bisa berangkat bersama-sama dari Jogja. Menikmati keindahan museum dan suasana pabrik gula. Pada bulan Mei merupakan bulan giling tebu jadi waktu yang tepat untuk berkunjung ke pabrik.



 foto oleh Dimaz Maulana dan Clarita Pinky D.

Jumat, 08 Maret 2013

Cerita Riset #6 - Nafkah dari Batu Bata

Musim kemarau adalah waktu yang tepat untuk memproduksi batu-bata. Ketika tanah persawahan mulai kesulitan pengairan salah satu solusinya adalah beralih profesi sebagai pembuat batu bata. Saya sempat menemui warga Karyo Mukti, Karangbrai, Comal yang akan membakar batu bata. Semua pekerja rata-rata sudah berusia lanjut.
 Ranting-ranting dipotong sebagai bahan bakar untuk memproses pembakaran batu bata

 Pada proses ini batu bata disusun sedemikian rupa, menghasilkan ruang-ruang sehingga ada tempat untuk ranting-ranting tersebut.

 Para pekerja ini biasanya tidak dibayar karena sistemnya sambatan. Sebuah sistem timbal balik, nanti suatu saat tuan rumah juga membantu jika ada para pekerja yang akan membakar batu-bata.

 Batu bata yang ini merupakan batu bata yang hasilnya kurang bagus sewaktu proses pembakaran. Tuan rumah berniat untuk membakarnya kembali untuk mendapatkan hasil yang sempurna. Batu bata yang sudah dibakar lagi tidak laku jika dijual melainkan hanya digunakan sendiri.

 Ada sekitar 8 pekerja, mereka membakarnya ketika malam hari. Terkadang masih ada sesajen agar hasil pembakarannya sempurna. Proses pembakarannya semalam dan baru dibongkar kira-kira 3 hari.

mereka membakar jika sudah mencapai 15.000-25.000 biji. Harga batu bata yang bagus mencapai Rp. 600/ 1000 biji.

Batu bata adalah sumber penghidupan sampingan ketika musim kemarau tiba. Memang tidak murah dalam memproduksi batu bata. Biaya termahal sewaktu melakukan proses pembakaran. Butuh kayu sekitar 3 trek/colt kayu dengan harga Rp.500.000-700.000. Belum biaya untuk pekerja memang adanya tidak dibayar namun sekarang sebagian besar dibayar dengan upah @Rp. 100.000. Tuan rumah juga harus menyiapkan makan dan minum. Satu tumpeng berikut satu ingkung/ayam utuh menjadi uba rampe yang harus ada ketika akan melakukan proses pembakaran. Terkadang dalam proses pembakaran terjadi roboh yaitu formasi batu bata rusak sehingga pembakaran tidak sempurna. Beberapa warga ketika saya tanyai hal itu karena tidak melakukan prosesi ritual sebelum melakukan pembakaran.


Senin, 18 Februari 2013

Suatu siang di Surabaya

 Saya sudah bersama dengan seorang teman sewaktu kuliah, Atria Sandhi atau yang lebih akrab di sapa bang Kobir. Siang itu Surabaya cukup terik. Kami sedang mengelilingi daerah perkotaan dan menepi ke depot es krim.

Zangradi begitu namanya ketika saya mengeja pada papan nama. Ketika itu masih dalam suasana natal sehingga tampak beberapa ornamen-ornamen yang menghiasi depot es. Kami memilih tempat outdoor sembari melihat kendaraan yang melintasi jalan seputaran kantor Gubernur Jawa Timur.

Saya memesan sate es krim dengan buah sedang Kobir memesan es krim dengan rum (saya lupa nama menunya). Menurut penilaian saya, menu yang saya pesan kurang oke. Mengapa? karena buah yang ada pada sate beku. Es krimnya kurang lembut. Sedangkan menu yang dipesan kobir sangat kuat aroma rum nya. Untuk menu yang dipesan Kobir, menurut saya tidak masalah. Harga yang ditawarkan masih terjangkau kog.

Dari Ujung ke Ujung Banjarmasin