Kamis, 20 Desember 2012

Cerita Riset #5 Belajar Hidup dari Mbah Casmo


Sore hari ketika selesai mewawancarai salah satu respon saya berjalan menyusuri jalan setapak di belakang SD N Karangbrai 1. Saya menghampiri seorang kakek yang sudah cukup berumur. “Mbah napa niki leres ndaleme mbah Casmo?” tanyaku. “Nggih, panjenengan sinten saking pundi?” tanya mbah Casmo yang menjadi awal perbincangan.

Setelah mengobrol barulah saya mengerti pekerjaan mbah Casmo. Mbah Casmo bekerja di lading tebu sebagai buruh larikan. Larikan adalah sebuah cerukan tanah sepanjang 7,5 meter yang nantinya ditanami batang tebu. Mbah Casmo bekerja setiap pagi sampai menjelang siang. Ketika sore biasanya diisi dengan memetik buah duwet yang akan dijualnya di SD depan rumahnya. “Lumayan kangge jajan putu” jelas Mbaj Casmo ketika saya tanya untuk apa memetik buah duwet.

Mbah Casmo bercerita tentang zaman penjajahan yang terjadi di Karangbrai, tentang lurah, tentang organisasi PKI yang komunal di daerah tersebut sampai long march Mbah Carmo dari desa Karangbrai menuju Cirebon.  Awalnya mbah Carmo sedikit curiga dengan kedatangan saya namun setelah saya memperkenalkan diri dan menjelaskan maksud dan tujuan saya baru beliau paham.

“Nek pengen ngerti kerjoku, sesuk jam pitu marani aku neng sawah” jelas mbah Casmo yang beberapa kali mengulangi kata-kata tersebut. Sepertinya mbah Casmo ingin menjelaskan bagaimana larikan itu. Upah setiap membuat larikan adalah Rp. 500. Setiap hari mbah Casmo hanya mampu mengerjakan 20 larikan. Mbah Casmo biasanya mengambil upahnya jika sudah menyelesaikan 100 larikan.

Suatu malam ketika saya mengantarkan bingkisan, saya melihat mbah Casmo tidur di luar. Ya, rumah gedeknya sudah jauh dari layak. Mbah pernah berkata “napa sampeyan saking TV? Mengke kula di ajak dolan trus pas bali omah kula dadi apik?” (bedah rumah-pen). Mbah Casmo adalah pribadi yang menarik yang saya kenal. Beliau bersemangat menjelaskan tentang pekerjaannya kepada saya. Saya pun harus bangun pagi untuk menempati janji bertemu dengan beliau.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

bajak