Rabu, 23 Mei 2012

Pagi yang Menjelma

Aku dan pagi yang selalu bersinergi seperti hubungan matahari dengan waktu pagi. Pagi ini aku sempat bertanya masihkah aku menjadi pagi mu? Pagi yang menyapa lewat saluran mutakhir abad ini. Aku datang di depan rumahmu. Mata kita bertatapan dan raut wajahmu berubah. Ya, aku masih ingat beberapa menit yang lalu aku sempat menengok pesan singkatmu yang enggan aku balas. Mengapa? Tidak cukup rasanya kata-kata sejumlah 140 karakter untuk menjelaskan permasalahan. Mata kita harus bertemu dan mulut harus bicara.


Aku menjelma menjadi seikat mawar kuning. Entah dari mana asalnya mawar tersebut. Tidaklah penting yang penting mawar ini sudah berada di pelukanmu bersama dengan pagi mu. Jadi, apakah pagi mu sudah mulai lengkap? Semoga.


Roda-roda kita mulai bergerak dan kami menyusuri jalanan kampung. Pancal. Sawah, pepohonan dan teriknya matahari menjadi latar penjelas suasana kala itu. Sesekali aku mencuri pandangan ke arah mu, senyuman mu sungguh menawan. Ah, mengapa pagi terlalu cepat? Masihkah esok aku menjadi pagi yang menjelma menjadi seikat bunga mawar kuning?



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

bajak