Kamis, 09 Juni 2011

Terminal Akademisi

Kemarin saya berangkat kuliah. Seharusnya saya berhela-hela tapi karena ada kuliah dadakan mata kuliah seminar, saya berangkat dengan malas. Seperti biasa perkuliahan seminar selalu serius, maklum dosen pengajarnya terkenal disiplin, Prof Bambang.

“saya ada oleh-oleh kecil untuk kalian!” tuturnya dengan senyum menguntai lebar.

Beberapa teman kami sedikit penasaran, sedikit memikirkan, oleh-oleh? Kecil?

Kemudian beliau bercerita tentang kunjungannya dari tanah Inggris. Disana bertemu dengan salah satu penerima nobel, entah siapa, saya sendiri lupa dengan namanya. Yang jelas dari Universitas Cambridge.

Alkisah universitas itu mendidik anak didiknya untuk memiliki rasa “sombong”. “Sombong” seperti apa? yang berarti memiliki rasa bangga terhadap universitas dan berfikiran tidak ada universitas lain selain universitas tempat kita belajar. Gampangnya dosen saya bercerita tentang para mahasiswa Cambridge hanya mengakui universitas terkeren ya Cambridge sendiri dan Harvard. Selain itu mereka tidak menganggap sebagai sebuah universitas.

Kemudian dosen saya menjelaskan, sebagai akademisi dari UGM kita harus bangga dan memiliki gengsi daripada mahasiswa-mahasiswa lain dari antah berantah. Memang sedikit ada rasa chauvimisme. Tapi itu penting menurut saya.

Lalu oleh-oleh kecilnya berupa tawaran untuk bersekolah ke Cambridge. Ya lanjut kuliah S2 dua di tanah Inggris. Sebuah tawaran yang sangat sangar. Suasana kelas terlihat berbisik, mereka membicarakan tentang hal tersebut. Bagaimana caranya untuk tembus sampai Cambridge? Toefl salah satu kuncinya, butuh 600 keatas. Berat sekali.

Bersekolah sampai S2 sebetulnya bukan tujuan saya. Saya sudah ingin cepat bekerja, berlibur dengan uang hasil kerja. Dosen saya menjelaskan juga S2 membuka peluang kerja, entah menjadi dosen, peneliti atau pegawai negeri. Dana yang dibutuhkan memang tidak sedikit. Untuk masuk S2 di Ugm terutama jurusan Sejarah dibutuhkan 4,5juta. Jumlah yang tidak sedikit untuk saya dan keluarga saya. Mungkin opsi beasiswa menjadi pilihan, tapi kemana? Saya pernah bertanya kapada seorang teman saya yang baru saja pendadaran, “eh dab, S2 ki ono beasiswa ra to?” ternyata beasiswa S2 di UGM tidak banyak. Beberapa mahasiswa S2 merupakan kiriman dari daerah masing-masing. Rata-rata mereka menjadi PNS lalu disekolahkan lagi di UGM.

Sekali lagi, tawaran berupa oleh-oleh kecil dari Prof. Bambang mengusik pikiran saya. Seakan-akan saya berangkat, menuju London. Ah, itu hanya khayalan saya. Bahasa Inggris saya masih terlalu jauh untuk mengambil tawaran itu. Kalau selain toefl, saya yakin saya sanggup untuk mengambil tawaran tersebut. Untuk tawaran S2, saya tekankan saya ingin bekerja dulu. Bukan berarti saya tidak berminat untuk S2, saya hanya tidak ingin merepotkan ibu saya. adik saya juga ingin berkuliah,jadi saya harus segera lulus S1.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

bajak