Jumat, 05 November 2010

Jogja berdebu#2

Suasana Jogja akhir-akhir bisa dikatakan semakin mengkhawatirkan. Kondisi Gunung Merapi yang belum jelas ujungnya, sisa-sisa debu vulkanik pada Sabtu lalu (30/10), sampai pemberitaan Televisi yang beberapa berlebihan dalam memberitakan kabar Gunung Merapi. Suasana Jogja sudah tidak asing lagi dengan masker yang melawan debu yang terbang.

Pagi itu Jogja “dihadiahi” lagi hujan abu vulkanik oleh Merapi, saya merasakan sejak sekitar pukul 9 malam ketika pulang kerja kemarin. Kali ini lebih parah dari sebelumnya. Saya berangkat ke kampus sekitar pukul 10 pagi. Sepanjang jalan saya hanya melihat debu itu menebal dan mengurangi jarak pandang. Beberapa anak sekolah dipulangkan dan kegiatan belajar mengajar di tiadakan. Sesampai dikampus suasana tampak lengang, tidak ramai seperti hari kemarin. Ternyata kampus juga libur.

Siang hari, motor saya melaju menembus debu-debu itu lagi, sedikit malas sebenarnya. Tujuan saya ke toko sablon “Wijaya” membeli beberapa pikmen. Di seputaran jalan solo terlihat toko-toko tutup. Warung-warung makan juga tutup, beberapa aktifitas jual beli sedikit menurun dari biasanya.

Hari ini hari Jumat. Saya percaya hujan akan turun pada hari ini. Siang itu memang terasa rintik-rintik hujan, namun sampai sore tak kunjung datang. Saya masih menunggu hujan datang dengan deras, mungkin hal semacam ini jarang sekali di minta oleh manusia. Biasanya mereka meminta cuaca cerah. Menjelang malam hujan mulai turun, tidak deras memang tapi cukup membasahi tanah yang dilapisi oleh debu.

Terimakasih Allah untuk hujannya, semoga bisa menghapus debu-debu dimuka mereka, menyegar mereka yang sudah merelakan jiwa dan raganya dalam mengevakuasi warga lereng merapi. Dan hujan itu untuk mereka yang kelelahan batin semoga mendapat ketenangan batin.

Bersama lagu dari Shaggydog – Pelabuhan

2 komentar:

  1. biarkan hujan meringankan nafasmu sejenak :)

    BalasHapus
  2. dan saya percaya hujan selalu datang di hari Jumat...

    BalasHapus

bajak